Beranda > Economics, Finance, Management > Capital Asset Pricing Model (CAPM)

Capital Asset Pricing Model (CAPM)


First Publised: 2 November 2007

Revision: 6 August 2009

Definisi

Definisi: Sebuah model yang menggambarkan hubungan antara risiko dan return yang diharapkann, model ini digunakan dalam penilaian harga sekuritas (A model that describes the relationship between risk and expected return and that is used in the pricing of risky securities) (Investopedia, http://www.investopedia.com/terms/c/capm.asp)

Model CAPM diperkenalkan oleh Treynor, Sharpe dan Litner. Model CAPM merupakan pengembangan teori portofolio yang  dikemukan oleh Markowitz dengan memperkenalkan istilah baru yaitu risiko sistematik (systematic risk) dan risiko spesifik/risiko tidak sistematik (spesific risk /unsystematic risk). Pada tahun 1990, William Sharpe memperoleh nobel ekonomi atas teori pembentukan harga aset keuangan yang kemudian disebut Capital Asset Pricing Model (CAPM)

Bodie et al. (2005) menjelaskan bahwa Capital Asset Pricing Model (CAPM) merupakan hasil utama dari ekonomi keuangan modern.Capital Asset Pricing Model (CAPM) memberikan prediksi yang tepat antara hubungan risiko sebuah aset dan tingkat harapan pengembalian (expected return). Walaupun Capital Asset Pricing Model belum dapat dibuktikan secara empiris, Capital Asset Pricing Model sudah luas digunakan karena Capital Asset Pricing Model akurasi yang cukup pada aplikasi penting.

Capital Asset Pricing Model mengasumsikan bahwa para investor adalah perencana pada suatu periode tunggal yang memiliki persepsi yang sama mengenai keadaan pasar dan mencari mean-variance dari portofolio yang optimal. Capital Asset Pricing Model juga mengasumsikan bahwa pasar saham yang ideal adalah pasar saham yang besar, dan para investor adalah para price-takers, tidak ada pajak maupun biaya transaksi, semua aset dapat diperdagangkan secara umum, dan para investor dapat meminjam maupun meminjamkan pada jumlah yang tidak terbatas pada tingkat suku bunga tetap yang tidak berisiko (fixed risk free rate). Dengan asumsi ini, semua investor memiliki portofolio yang risikonya identik.

Capital Asset Pricing Model menyatakan bahwa dalam keadaan ekuilibrium, portofolio pasar adalah tangensial dari rata-rata varians portofolio. Sehingga strategi yang efisien adalah passive strategy. Capital Asset Pricing Model berimplikasi bahwa premium risiko dari sembarang aset individu atau portofolio adalah hasil kali dari risk premium pada portofolio pasar dan koefisien beta.

Risiko dan Return

Keinginan utama dari investor adalah meminimalkan risiko dan meningkatkan perolehan (minimize risk and maximize return). Asumsi umum bahwa investor individu yang rasional adalah seorang yang tidak menyukai risiko (risk aversive), sehingga investasi yang berisiko harus dapat menawarkan tingkat perolehan yang tinggi (higher rates of return), oleh karena itu investor sangat membutuhkan informasi mengenai risiko dan pengembalian yang diinginkan.

Risiko investasi yang dihadapi oleh investor (Rose, Peter S., dan Marquis, Milton H. 2006. Money and Capital Markets, Ninth Edition, p 277-280):
1. Market Risk (risiko pasar), sering disebut juga sebagai interest rate risk, nilai investasi akan menjadi turun ketika suku bunga meningkat mengakibatkan pemilik investasi mengalami capital loss.
2. Reinvestment risk, risiko yang disebabkan sebuah aset akan memiliki yield yang lebih sedikit pada beberapa waktu di masa yang akan datang.
3. Default risk. Risiko apabila penerbit aset gagal membayar bunga atau bahkan pokok aset.
4. Inflation risk. Risiko menurunya nilai riil aset karena inflasi.
5. Currency risk. Risiko menurunnya nilai aset karena penurunan nilai tukar mata uang yang dipakai oleh aset.
6. Political risk. Risiko menurunya nilai aset karena perubahan dalam peraturan atau hukum karena perubahan kebijakan pemerintah atau perubahan penguasa.

Suku bunga bank sentral tentunya masih berpotensi memiliki semua risiko, akan tetapi diasumsikan negara tidak mungkin gagal membayar (walaupun ada juga kemungkinannya), oleh karena itu biasanya return dari risk free aset (Rf) digunakan suku bunga bank sentral.

Capital Asset Pricing Model (CAPM) mencoba untuk menjelaskan hubungan antara risk dan return. Dalam penilaian mengenai risiko biasanya saham biasa digolongkan sebagai investasi yang berisiko. Risiko sendiri berarti kemungkinan penyimpangan perolehan aktual dari perolehan yang diharapkan (possibility), sedangkan derajat risiko (degree of risk) adalah jumlah dari kemungkinan fluktuasi (amount of potential fluctuation).

Saham berisiko dapat dikombinasi dalam sebuah portfolio menjadi investasi yang lebih rendah risiko daripada saham biasa tunggal. Diversifikasi akan mengurangi risiko sistematis (systematic risk), tetapi tidak dapat mengurangi risiko yang tidak sistematis (unsystematic risk). Unsystematic risk adalah bagian dari risiko yang tidak umum dalam sebuah perusahaan yang dapat dipisahkan. Systematic risks adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan yang berhubungan dengan seluruh pergerakan pasar saham dan tidak dapat dihindari.

Informasi keuangan mengenai sebuah perusahaan dapat membantu dalam menentukan keputusan investasi. Investor biasanya menghindari risiko, investor menginginkan perolehan tambahan (additional returns) untuk menanggung risiko tambahan (additional risks). Oleh karena itu saham berisiko tinggi (High-risk securities) harus mempunyai harga yang menghasilkan perolehan lebih tinggi daripada perolehan yang diharapkan dari saham berisiko lebih rendah.

Persamaan CAPM

Persamaan risiko dan perolehan (Equation Risk and Return) adalah :

Rs = Rf + Rp

Rs = Expected Return on a given risky security

Rf = Risk-free rate

Rp = Risk premium

Bila nilai β = 1 artinya adanya hubungan yang sempurna dengan kinerja seluruh pasar seperti yang diukur indek pasar (market index), contohnya nilai yang diukur oleh Dow-Jones Industrials dan Standard and Poor’s 500-stock-index. Hubungan ini dapat digambarkan dalam contoh pada gambar.

β adalah ukuran dari hubungan paralel dari sebuah saham biasa dengan seluruh tren dalam pasar saham.

Bila β > 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih tinggi daripada pasar.

β < 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih rendah daripada indek pasar secara umum (general market index).

Perubahan persamaan risiko dan perolehan (Equation Risk and Return) dengan memasukan faktor β dinyatakan sebagai:

Rs = Rf + βs (Rm – Rf)

Rs = Expected Return on a given risky security

Rf = Risk-free rate

Rm = Expected return on the stock market as a whole

βs = Stock’s beta, yang dihitung berdasarkan waktu tertentu

CAPM bertahan bahwa harga saham tidak akan dipengaruhi oleh unsystematic risk, dan saham yang menawarkan risiko yang relatif lebih tinggi (higher βs) akan dihargai relatif lebih daripada saham yang menawarkan risiko lebih rendah (lower βs). Riset empiris mendukung argumen mengenai βs sebagai prediktor yang baik untuk memprediksi nilai saham di masa yang akan datang (future stock prices).

CAPM dikritik sebagai penyebab masalah kompetisi di Amerika Serikat. Manajer di sebuah perusahaan di Amerika Serikat yang menggunakan CAPM terpaksa membuat investasi yang aman dalam jangka pendek dan perolehannya dapat diprediksi dalam jangka pendek daripada investasi yang aman dan perolehan dalam jangka panjang. Para peneliti telah menggunakan CAPM untuk menguji hipotesa yang berhubungan dengan hipotesa pasar efisien.

Markowitz dan Market Model

William Sharpe dalam membangun model CAPM diilhami dari teori portofolio yang diajukan oleh Harry Markowits. Markowitz mengusulkan sebuah model untuk menjelaskan korelasi diantara return sekuritas. Model ini mengasumsikan bahawa return dari sekuritas ke-i tergantung pada sebuah faktor yang mendasari, nilai yang diwakili oleh indeks, dalam notasi matematika dinyatakan sebagai:

ri = ai + Bi.F + ui

ri = return sekuritas i

Bi = Beta dari sekuritas i

F = indeks (belum tentu indeks pasar)

ui = error term

(walaupun selanjutnya markowitz mengusulkan bahwa persamaan itu seharusnya tidak linier, karena ada faktor lain yang mendasarinya)

Kemudian pada tahun 1963, William Sharpe menguji persamaan tersebut sebagai penjelasan bagaimana return sekuritas cenderung naik dan turun seiring dengan naik turunnya indeks umum pasar, secara spesifik Sharpe menggunakan persamaan sebagai berikut:

rit = ai + Bi.rmt + uit

rit = return dari aset i pada periode t

rmt = return dari indeks pasar pada periode t

ai = komponen non-pasar dari return aset i

Bi = rasio kovarian dari return aset i dan return indeks pasar terhadap varians return indeks pasar

uit = zero mean random error term

Model ini disebut model pasar indeks tunggal (single index market model) atau sering disebut market model.

Dilihat disini pada model markowitz, indeks-nya belum tentu indeks pasar, tetapi pada market model digunakan indeks pasar.

Aplikasi CAPM

Model yang dikembangkan CAPM menjelaskan bahwa tingkat return yang diharapkan adalah penjumlahan dari return aset bebas risiko dan premium risiko. Premium risiko dihitung dari beta dikalikan dengan premium risiko pasar yang diharapkan. Premium risiko pasar sendiri dihitung dari tingkat return pasar yang diharapkan dikurangi dengan tingkat return aset bebas risiko. Bentuk matematika CAPM

Rs = Rf + βs (Rm – Rf)

Rf biasanya didekati dengan tingkat return suku bunga bank sentral, di Indonesia umumnya risk free aset didekati dengan tingkat return suku bunga Bank Indonesia.

βs didekati dengan menghitung data time series saham dengan data return pasarnya. Penjelasan mengenai cara menghitung beta disertakan di bagian akhir artikel ini.

Rm didapatkan dengan meramalkan return IHSG. Banyak mahasiswa yang bingung mendapatkan nilai Rm yang negatif, biasanya mereka menghitung IHSG dengan cara memprediksi historisnya yaitu dengan membandingkan return IHSG tahun x dengan return IHSG tahun x-1. Dari definisi CAPM bahwa Rm adalah tingkat return pasar yang diharapkan, bukan tingkat return pasar yang periode yang lalu. Untuk mendapatkan nilai Rm tentunya harus dapat memprediksi berapa tingkat return IHSG yang diharapkan. Salah satu cara memprediksi IHSG adalah dengan cara analisis faktor. Di sini anda harus melakukan studi empiris, anda harus menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi IHSG, kemudian membuat persamaan regresi dari IHSG dan faktor yang mempengaruhinya.  Dan terakhir anda harus memprediksi nilai dari faktor yang mempengaruhi IHSG untuk x periode yang anda tentukan. Cara lainnya adalah menggunakan nilai IHSG dari hasil penelitian empiris dari peneliti lain.

Contoh Aplikasi Menghitung Rs

Suatu sekuritas x yang mempunyai Expected Return 0.27 (27% per tahun) dan nilai betanya 1.2, apakah sekuritas x ini layak di beli atau tidak?

Rs = Rf + βs (Rm – Rf)

Rf = misal SBI 1 bulan saat ini adalah 0.06 (6% per tahun)

Rm = misal return IHSG yang diharapkan saat ini adalah 0.26 (26% per tahun, didapatkan dengan cara memprediksi return)

βs = 1.2

Sehingga
Rs = 0.06 + 1.2 (0.26 – 0.06)
Rs = 0.06 + 1.2 (0.2)
Rs = 0.06 + 0.24
Rs = 0.3 (30%)

Kesimpulan, dengan nilai beta 1.2, apabila return yang diperoleh hanya 27%, maka harga sekuritas terlalu mahal, karena return wajarnya adalah 30%

Contoh cara menghitung Beta

Nilai β dapat dihitung sendiri menggunakan data time series suatu saham/industri dan time series return suatu pasar (misalnya IHSG, NYSE, dll),

Contoh perhitungan:

Return saham X dibandingkan dengan pasar

tahun 1-return saham X = -0.05, return pasar -0.12

tahun 2-return saham X = 0.05, return pasar = 0.01

tahun 3-return saham X = 0.08, return pasar = 0.06

tahun 4-return saham X = 0.15, return pasar = 0.10

tahun 5-return saham X = 0.10, return pasar = 0.05

Sehingga rata-rata return saham X adalah 0.066

Menghitung deviasi return saham X

tahun 1 = -0.1160

tahun 2 = -0.0160

tahun 3 = 0.0140

tahun 4 = 0.0840

tahun 5 = 0.0340

Rata-rata return pasar adalah 0.02 sehingga deviasi return pasar:

tahun 1 = -0.14000

tahun 2 = -0.0100

tahun 3 = 0.0400

tahun 4 = 0.0800

tahun 5 = 0.0300

Kalikan masing masing deviasi return saham dengan deviasi return pasar:

tahun 1 = -0.1160 x -0.14000 = 0.0162

tahun 2 = -0.0160 x -0.0100 = 0.0002

tahun 3 = 0.0140 x 0.0400 = 0.0006

tahun 4 = 0.0840 x 0.0800 = 0.0067

tahun 5 = 0.0340 x 0.0300 = 0.0010

Jumlah = 0.0247

Pangkat duakan deviasi return pasar

tahun 1 = -0.14000^2 = 0.0196

tahun 2 = -0.0100^2 = 0.0001

tahun 3 = 0.0400^2 = 0.0016

tahun 4 = 0.0800^2 = 0.0064

tahun 5 = 0.0300^2 = 0.0009

Jumlah = 0.0286

Sehingga Beta untuk saham X adalah 0.0247/0.0286 = 0.86

External Reference:

Burton, Jonathan. 1998. Revisiting The Capital Asset Pricing  Model. Dow Jones Asset Manager, May/June 1998, pp. 20-28 [Also Available at http://www.stanford.edu/~wfsharpe/art/djam/djam.htm%5D

How to cite:

Naftali, Yohan. Capital Asset Pricing Model (CAPM). Yohan Naftali. 2 November 2007, Revisi 6 Agustus 2009. Yohan Naftali. http://yohanli.com/2007/11/capital-asset-pricing-model-capm [Accessed date].

About these ads
  1. dhewy
    Desember 5, 2007 pukul 3:51 am

    makasih tulisannya bisa buat tambahan tugas dosen ku yang galak…

  2. muttaqin
    Desember 17, 2007 pukul 10:24 am

    sudah adakah lembaga di indonesia yang meneliti βs untuk masing jenis usaha, jika tidak salah tingkat βs masing jenis usaha berbeba. jika belum ada bagaimana cara menentukan βs tersebut. terima kasih

  3. Desember 18, 2007 pukul 9:42 am

    Nilai β dapat dihitung sendiri menggunakan data time series suatu saham/industri dan time series return suatu pasar (misalnya IHSG, NYSE, dll),

    Contoh perhitungan:

    Return saham X dibandingkan dengan pasar

    tahun 1-return saham X = -0.05, return pasar -0.12
    tahun 2-return saham X = 0.05, return pasar = 0.01
    tahun 3-return saham X = 0.08, return pasar = 0.06
    tahun 4-return saham X = 0.15, return pasar = 0.10
    tahun 5-return saham X = 0.10, return pasar = 0.05

    Sehingga rata-rata return saham X adalah 0.066

    Menghitung deviasi return saham X
    tahun 1 = -0.1160
    tahun 2 = -0.0160
    tahun 3 = 0.0140
    tahun 4 = 0.0840
    tahun 5 = 0.0340

    Rata-rata return pasar adalah 0.02 sehingga deviasi return pasar:
    tahun 1 = -0.14000
    tahun 2 = -0.0100
    tahun 3 = 0.0400
    tahun 4 = 0.0800
    tahun 5 = 0.0300

    Kalikan masing masing deviasi return saham dengan deviasi return pasar:
    tahun 1 = -0.1160 x -0.14000 = 0.0162
    tahun 2 = -0.0160 x -0.0100 = 0.0002
    tahun 3 = 0.0140 x 0.0400 = 0.0006
    tahun 4 = 0.0840 x 0.0800 = 0.0067
    tahun 5 = 0.0340 x 0.0300 = 0.0010

    Jumlah = 0.0247

    Pangkat duakan deviasi return pasar
    tahun 1 = -0.14000^2 = 0.0196
    tahun 2 = -0.0100^2 = 0.0001
    tahun 3 = 0.0400^2 = 0.0016
    tahun 4 = 0.0800^2 = 0.0064
    tahun 5 = 0.0300^2 = 0.0009

    Jumlah = 0.0286

    Sehingga Beta untuk saham X adalah 0.0247/0.0286 = 0.86

  4. Desember 18, 2007 pukul 9:46 am

    Selamat mencoba,

    Untuk mendapatkan return industri, bisa digunakan index saham industri dan untuk mendaptkan return pasar, bisa digunakan return ihsg

    periode bisa digunakan bulanan, tahunan selama beberapa periode yang cukup panjang (misalkan 5 tahun)

  5. Januari 10, 2008 pukul 6:56 pm

    TOLONG DONG KASIH TAU CARANYA MENGHITUNG BETA SAHAM IPO (YANG BARU LISTING). GMANA SIH CARANYA…………BINGGUNG NICH……..!

  6. yohanli
    Januari 12, 2008 pukul 11:02 am

    Beta saham yang baru listing dihitung dengan menggunakan perkiraan saja, belum ada satu metode baku untuk menghitung beta saham

  7. aryyanto
    Januari 16, 2008 pukul 1:00 am

    manakah yang lebih besar antara beta saham syariah dgn saham non syariah…trimaksih

  8. RATNA
    Februari 8, 2008 pukul 1:24 pm

    Gimana sih cara menganalisa beta saham?hasil penelitian saya menghasilkan beta diatas dua,penjelasannya kira-kira apa?

  9. Yohan Naftali
    Februari 17, 2008 pukul 6:17 pm

    Bila β > 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih tinggi daripada pasar. Saham yang bernilai lebih dari 2 artinya saham tersebut sangat fluktuatif, saham tersebut akan naik dan turun (bergejolak) lebih tinggi dibandingkan dengan indeks pasar (misalnya IHSG atau LQ 45).

  10. via
    Februari 24, 2008 pukul 10:07 pm

    Dengan Hormat,
    saya sedang melakukan penelitian untuk skripsi,
    untuk menghitung nilai required rate of return dari suatu saham bagaimana caranya?
    nilai Rf dilihat dari suku bunga SBI, datanya per mingguan…sedangkan data rasio keuangan yang lainnya saya menggunakan data tahunan…
    mohon bantuannya…

    terima kasih

  11. Februari 25, 2008 pukul 9:41 am

    Salah satu cara menghitung Required return dari suatu saham (Rs) adalah dengan cara menggunakan rumus CAPM yang tentunya harus berlakunya asumsi-asumsi CAPM.
    Rs = Rf + βs (Rm – Rf)

    Rf = Riskfree, bisa diambil data suku bunga SBI (misalnya SBI 3 bulan, tentunya setiap peneliti punya alasan sendiri untuk menentukan return yang riskfree, tidak harus SBI !)

    Rm diambil dari return pasar yang salah satu indikatornya adalah IHSG (bisa juga mengambil LQ45, dll)

    Selain CAPM, perkiraan return saham bisa dicari dengan cara lainnya. (Bisa saja menggunakan teknikal analisis)

    Perbedaan periode data harus “disamakan” misalnya data mingguan dikonversi ke data tahunan dengan cara merata-rata, atau data tahunan dikonversi ke mingguan dengan cara interpolasi. Semuanya itu tergantung asumsi yang anda gunakan. Setiap peneliti memiliki alasan masing-masing, yang penting asumsi anda dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

  12. Ellen
    Maret 6, 2008 pukul 8:52 pm

    Saya ingin menanyakan mengenai keefektifan analisa CAPM pada saham-saham di Bursa Efek Indonesia.
    Apakah saya bisa menggunakan analisa CAPM untuk menentukan saham mana yg sebaiknya saya pilih di antara beberapa saham yg ada di BEI ?
    Karena saya mengambil judul skripsi mengenai analisa CAPM untuk memilih apakah seorang investor sebaiknya membeli saham Indofood atau Unilever ?
    Apa analisa CAPM ini cukup akurat ?
    Terima kasih
    GBU

  13. Maret 10, 2008 pukul 3:32 pm

    Analisis harga saham menggunakan CAPM dapat berlaku pada kondisi di mana asumsi CAPM berlaku (ceteris paribus).

    Pertanyaanya adalah apakah kondisi tersebut berlaku di Indonesia, di mana salah satu asumsi CAPM adalah bahwa pasar adalah pasar yang efisien, sedangkan menurut beberapa penelitian, pasar saham di indonesia adalah pasar efisien lemah bahkan cenderung kurang efisien.

    Menurut sepengetahuan saya, analisis yang menggunakan dasar CAPM kurang akurat dan saya menganjurkan untuk tidak menggunakan CAPM sebagai dasar pertimbangan.

  14. Maret 10, 2008 pukul 3:41 pm

    Referensi dari http://www.ekofeum.or.id/artikel.php?cid=20 Ekofeum Jurnal (Agus_SMT)

    Risiko ada dua macam, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis adalah risiko yang dialami oleh semua investasi tanpa terkecuali. Oleh karena itu risiko ini dinamakan juga risiko pasar (market risk). Namun demikian besar kecilnya risiko sistematis tiap investasi, termasuk juga saham, sangat berbeda. Sedang risiko tidak sistematis adalah risiko yang hanya dialami oleh investasi tersebut, yang bisa disebabkan oleh faktor manajemen, ciri khusus jenis industri, jenis persaingan usaha dan sebagainya (Francis, 1988).
    Untuk mengatasi risiko ini maka biasanya investor mengkombinasikan investasinya dalam berbagai macam asset, yang dinamakan portofolio. Markowitz (1952) mengembangkan suatu bentuk diversifikasi yang efisien, yang bisa menurunkan risiko tanpa menurunkan return portofolio. Markowitz menyarankan agar portofolio seharusnya adalah pengkombinasian asset-asset yang berkorelasi kurang dari positip sempurna agar dapat mengurangi risiko.
    Ukuran yang dipakai dalam portofolio Markowitz adalah koefisien korelasi. Koefisien korelasi positip menunjukkan bahwa kedua asset bergerak searah, sedang koefisien korelasi negatip menunjukkan bahwa kedua asset bergerak berlawanan. Disamping itu, di dalam memilih portofolio seharusnya dipakai prinsip dominasi. Apabila ada dua surat berharga yang returnnya sama tetapi risikonya berbeda, maka dipilih yang risiko rendah. Apabila ada dua surat berharga yang risikonya sama tetapi return nya berbeda, maka dipilih yang returnnya tinggi.
    Model Markowitz telah terbukti membawa pemilihan portofolio yang efisien, yang terletak pada garis efisien (efficient frontier), yaitu portofolio yang merupakan porfolio pasar, tetapi dengan asumsi: (1) para investor adalah penghindar risiko yang memaksimalkan utility yang diharapkan; (2) investor memilih portofolio dengan dasar pertimbangan rata-rata varian dan return yang diharapkan; (3) semua investor melakukan periode pemegangan tunggal (single holding periode); disamping itu ada asumsi impilisit bahwa modal yang digunakan investor adalah modal sendiri, bukan dari pinjaman.
    Dalam dunia nyata, teori porfolio Markowitz tidak sesuai karena dalam kenyataannya para investor melakukan jual beli portofolio tidak semua dananya adalah modal sendiri. Ada investor yang memakai dana pinjaman utuk diinvestasikan portofolio, disamping itu ada investor yang meminjamkan dananya pada tingkat bunga tertentu terhadap investor lain. Tingkat pengembalian modal yang dipinjam dan dipinjamakan tersebut disebut dengan tingkat bebas risiko. Tingkat bebas risiko ini biasanya dipunyai surat-surat berharga pemerintah dalam nilai riil, yaitu setelah diperhitungan tingkat inflasi (Fuller and Farrel, 1987).
    Sharpe (1965) menyempurnakan model portofolio Markowitz diambah dengan asumsi: (1) adanya tingkat bebas risiko; (3) investasi bisa dipecah-pecah dalam bentuk yang sekecil mungkin; (3) adanya kebebasan short sales (4) semua aktiva bisa diperjual belikan. Dengan demikian maka portofolio yang efisien suatu garis pasar modal (capital market line) yang intersepnya adalah tingkat bebas risiko (rf). Untuk mengambarkan trade-off antara risiko dan return untuk seluruh surat berharga, baik yang efisien maupun yang tidak, maka ukuran yang dipakai bukanlah varian, tetapi adalah risiko sistematisnya (β). Hubungan antara risiko sistematis dengan return tersebut apabila digambarkan dalam suatu model akan membentuk Capital Asset Pricing Model (CAPM). Model tersebut bisa dituliskan:
    E(Ri) = Rf + [E(Rm)-Rf]βi
    Dimana E(Ri) adalah return yang diharapkan dari surat berharga i adalah fungsi dari risiko sistematisnya (β). Sedangkan slope/kemiringannya [E(Rm)-Rf] dinamakan dengan harga risiko atau premi risiko, yaitu selisih antara return pasar yang diharapkan (E(Rm)) dengan tingkat bebas risiko (Rf).
    Namun demikian dalam kenyataannya akan senantiasa terdapat surat-surat berharga yang returnnya di luar yang diharapkan CAPM. Penyebabnya antara lain: (1) adanya biaya transaksi; (2) adanya pajak capital gain yang membuat para investor enggan menjual surat-surat berharga yang ternilai rendah oleh CAPM (undervalued); (3) adanya ketidaksempurnaan informasi pasar. Oleh karena itulah dalam kenyataannya CAPM lebih merupakan sebuah band daripada sebuah garis (Fuller & FarrellJr., 1987). Demikian pula apabila unsur tingkat bebas risiko (Rf) dihilangkan dari model, karena dalam kenyataan tidak mungkin investor bisa meminjam dan meminjamkan pada tingkat yang sama, maka akan membentuk Zero Beta CAPM (Elton & Gruber, 1991), dengan model sebagai berikut:
    E(Ri) = E(Rz) + [E(Rm)-E(Rz)]βi
    Dimana Rz adalah asset yang tidak berkorelasi dengan portofolio pasar, atau mempunyai β =0. Rz ini misalnya adalah obligasi pemerintah yang berjangka panjang, yang mempunyai return riil yang tetap, mudah diperjual-belikan, dan bisa dipecah-pecah dalam satuan yang kecil-kecil.
    Berbagai pengujian CAPM dengan data empiris telah banyak dilakukan. Pengujian oleh Black, Jansen dan Scholes, juga oleh Fama dan MacBeth menggabungkan saham-saham menjadi portofolio untuk menaksir β tiap-tiap portofolio, kemudian melakukan regresi cross sectional antara rata-rata return dengan β tiap-tiap portofolio. Ada juga pengujian yang menggunakan surat-surat berharga individual, misalnya oleh Linzerberger, Ramaswamy dan Gibbons.
    Hasil pengujian tersebut rata-rata membuktikan bahwa: (1) intersep CAPM secara signifikan tidak sama dengan tingkat bebas risiko, hal ini membuktikan bahwa Zero Beta CAPM lebih berlaku di dunia nyata; (2) kemiringan/slope dari persamaan CAPM (a1) ternyata lebih rendah daripada yang diramalkan (Rm-Rf); (3) tidak ada bukti bahwa hubungan antara risiko sistematis dan return tidak linear, hal ini masih sesuai dengan spesifikasi CAPM; (4) Faktor-faktor selain β ternyata berperan di dalam menerangkan return surat berharga, misalnya P/E rasio, besar kecilnya perusahaan, jenis perusahaan, musiman dan sebagainya (Weston & Copeland, 1992).
    Pengujian CAPM di BEJ antara lain oleh Suad Husnan pada tahun 1990 (Husnan, 1993), menggunakan metode yang sama dengan Black, Jensen, Scholes pada tahun 1972, hasilnya adalah banyak β yang signifikan secara statistik dan standar CAPM tidak berlaku di BEJ, tetapi yang belaku adalah Zero Beta CAPM.
    Uji lainnyadi BEJ dilakukan oleh Henny (Husnan, 2001) menggunakan metode yang sama denga Lintner. Regresi tahap pertama menggunakan model pasar untuk menaksir β, sedangkan regresi yang kedua menggunakan cross sectional, hasilnya menunjukkan bahwa Zero Beta CAPM lebih berlaku di BEJ daripada standar CAPM.
    Untuk kasus di Bursa Efek Surabaya (BES), pengujian CAPM empiris dilakukan oleh Sumanto tahun 1993 menggunakan metode yang sama dengan metode Lintner, dengan menggunakan data return bulanan saham individual dari tahun 1991 sampai dengan 1993 sebanyak 120 sampel saham. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir semua β adalah signifikan. Tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan yang tidak linear antara return dengan β. Intersep persaman empiris secara secara signifikan tidak sama dengan persamaan teoritis, yaitu secara signifikan lebih rendah dari 0 (Sumanto, 1993).
    Penelitian lain oleh Saputra dan Leng (2005) dengan menggunakan sampel saham-saham di BEJ pada tahun 1999, untuk melihat pegaruh risiko sistematis dan likuiditas terhadap return saham-saham. Likuiditas diukur dengan bid-ask spread. Hasilnya menunjukkan bahwa baik likuiditas maupun risiko sistematis secara signifikan mempengaruhi return, tetapi diantara kedua faktor tersebut yang paling banyak berpengaruh adalah risiko sistematis dibandingkan dengan likuiditas.
    Berbagai macam pengujian CAPM termasuk yang di Indonesia menunjukkan bahwa yang lebih berlaku adalah Zero Beta CAPM daripada standar CAPM, tetapi belum pernah diuji validitas kegunaannya untuk memprediksi return-return saham di masa depan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menggunakan persamaan CAPM empiris untuk menguji ketepatan prediksi terhadap naik turunnya return saham-saham individual satu tahun ke depan dengan data 3 tahun yang lalu.
    http://www.ekofeum.or.id/artikel.php?cid=20

  15. Ellen
    Maret 11, 2008 pukul 2:14 pm

    Jadi sebaiknya saya menggunakan analisis dgn cara apa untuk menganalisis saham-saham yang ada di BES ?
    Bagaimana dengan analisis teknikal dan fundamental ?
    Saya bingung menentukan teknik yg tepat untuk melakukan pemilihan saham
    Thanks untuk jawabannya, tapi dari penjelasan
    http://www.ekofeum.or.id/artikel.php?cid=20 di atas, menunjukkan ada ZERO BETA CAPM, apa bedanya CAPM dgn ZERO BETA CAPM ?
    Apa formulanya berbeda ?
    Kalau bisa anda tolong jelaskan perbedaannya dan formulanya.
    Maaf telah banyak merepotkan, tapi saya senang bisa menemukan tempat tanya jawab seperti ini, sungguh sangat membantu saya.
    Terima kasih

  16. Maret 12, 2008 pukul 9:05 am

    Setiap investasi selalu mengandung risiko, analisis teknikal dan analisis fundamental serta jenis analisis lainnya hanya bertujuan untuk meminimumkan tingkat risiko.

    Samuelson menjelaskan bahwa kita tidak dapat mengalahkan pasar. Akan tetapi kita dapat meminimumkan risiko dengan cara menemukan teknik peramalan yang tepat.

    Perkembangan analisis saham tidak hanya terbatas pada analisis fundamental dan teknikal saja, sekarang sudah banyak dikembangkan metode peramalan dengan ARIMA, ARCH, VEC Model, dan lain sebagainya. Penelitian ini masih terus berlanjut, saya sendiri sedang meneliti teknik peramalan saham menggunakan non liniear model yang diselesaikan dengan bantuan metode algoritma genetika untuk disertasi saya.

    CAPM formulanya sama, Zero Beta CAPM bedanya nilai betanya nol.

  17. Ellen
    Maret 12, 2008 pukul 12:29 pm

    Terima kasih banyak untuk penjelasannya.
    Dapat ilmu lagi dah …
    Saya hanya pernah mendengar analisis teknikal dan fundamental saja selama perkuliahan.
    Teknik peramalan saham ternyata cukup banyak. Baru tahu ^^

    sekali lagi terima kasih, saya akan menggunakan analisis teknikal dan fundamental dalam skripsi saya.

    God blezz

  18. Maret 13, 2008 pukul 1:33 pm

    sebagai referensi saya menyarankan untuk melihat jurnal jurnal di xxx.lanl.gov (gratis di download). Banyak teknik-teknik statistik dan peramalan terbaru di sana

  19. arizal
    April 1, 2008 pukul 10:26 am

    tolong dijelasin donk… mengapa teknik peramalan return saham itu penting baik bagi investor, perusahaan, maupun pemerintah.. tenkyu…

  20. April 2, 2008 pukul 8:42 am

    Teknik peramalan mencoba mempredikisi sesuatu yang tentunya akan membantu investor, perusahaan, maupun pemerintah dalam mengambil suatu keputusan yang berhubungan dengan masa depan.

  21. fikrul
    April 4, 2008 pukul 11:57 am

    aku bingung dengan judul skripsi yang tak ambnil, judulnya pengaruh fundamental pasar terhadap beta saham.aku nyari jurnal diperpus lom ktemu.volume saham, frekwensi saham, dan trading day apakah termasuk fundamental pasar. tolong terangin y?aku masih bingung. thanx b4

  22. April 4, 2008 pukul 4:18 pm

    Saya juga bingung nih mau menjawabnya,
    Beta saham pastinya dipengaruhi oleh fundamental perusahaan bukan secara langsung oleh fundamental pasar (kalau menurut CAPM). Fundamental pasar tentunya berhubungan dengan risiko pasar (risiko sistematis).

    Rs = Rf + βs (Rm – Rf)

    Fundamental pasar akan mempengaruhi return pasar (Rm), kemudian setelah return pasarnya dihitung, dapat menghitung beta saham individunya (βs). Beta saham tentunya dipengaruhi oleh kondisi perusahaan tersebut, cara menghitungnya sudah saya jelaskan di atas.

    Kalau yang disebut fundamental pasar itu mungkin yang anda maksud adalah kondisi ekonomi (indikatornya adalah PDB, Inflasi, suku bunga, nilai tukar, dll) atau kondisi industrinya.

    Volume perdagangan (seluruh saham), frekuensi penjualan seluruh saham bisa saja dikategorikan sebagai faktor pasar, Trading day biasanya dimasukkan ke dalam faktor psikologis.

  23. ayu
    April 11, 2008 pukul 3:55 pm

    saya saat ini sedang mengerjakan skripsi ttg CAPM,,,cuma lg bingung nih…yg menjadi kriteria risiko yang layak pada investasi keuntungan bebas risiko iru seperti apa ya?? dan saya sudah mengolah data dan menemukan nilai beta dan return saham yg saya teliti bernilai negatif. Faktor apa aja yg menyebabkan nilai2 tersebut bernilai negatif…???
    Sebelumna terima kasih ya..kl bs replayna ke email saya aja..:)
    thanx

  24. April 13, 2008 pukul 4:42 pm

    Tidak ada investasi tanpa risiko. Keuntungan bebas risiko hanya dapat didekati dengan nilai suku bunga bank sentral pada jangka pendek, misalnya SBI 1 bulan.

    Nilai beta negatif artinya return aset tersebut berkebalikan dengan return pasar. Secara umum return pasar akan selalu positif, apabila beta suatu saham negatif, artinya aset tersebut akan memberikan return yang lebih kecil dari tingkat keuntungan bebas risiko.Bila beta negatif pada pasar yang selalu memberikan return yang positif, artinya aset tersebut memberikan return yang kecil

  25. ayu
    April 14, 2008 pukul 7:15 pm

    jadi kl keuntungn bebas risiko hny dpt didekati dengan nilai suku bunga bank sentral,yg menjadi risiko yang layak di suku bunga itu sndiri gmn ya??sy bingung nih..dosen yang nanya..maap agak2 ga ngerti..:)

  26. April 15, 2008 pukul 5:28 am

    Pertanyaanya saya kurang mengerti.
    Risiko investasi yang dihadapi oleh investor (Rose, Peter S., dan Marquis, Milton H. 2006. Money and Capital Markets, Ninth Edition, p 277-280):
    1. Market Risk (risiko pasar), sering disebut juga sebagai interest rate risk, nilai investasi akan menjadi turun ketika suku bunga meningkat mengakibatkan pemilik investasi mengalami capital loss.
    2. Reinvestment risk, risiko yang disebabkan sebuah aset akan memiliki yield yang lebih sedikit pada beberapa waktu di masa yang akan datang.
    3. Default risk. Risiko apabila penerbit aset gagal membayar bunga atau bahkan pokok aset.
    4. Inflation risk. Risiko menurunya nilai riil aset karena inflasi.
    5. Currency risk. Risiko menurunnya nilai aset karena penurunan nilai tukar mata uang yang dipakai oleh aset.
    6. Political risk. Risiko menurunya nilai aset karena perubahan dalam peraturan atau hukum karena perubahan kebijakan pemerintah atau perubahan penguasa.

    Suku bunga bank sentral tentunya masih berpotensi memiliki semua risiko, akan tetapi diasumsikan negara tidak mungkin gagal membayar (walaupun ada juga kemungkinannya)

  27. ayu
    April 16, 2008 pukul 9:50 am

    yup…thanx ya bwt info2nya…
    cukup bwt referensi,,,
    maap kalo agak2 ngebingunin..
    terima kasih :)

  28. sanjaya
    April 16, 2008 pukul 6:33 pm

    saya mau tanya, apakah penilaian saham dengan CAPM termasuk dalam analisa tehnikal. karena yang tahu, analisa tehnikal adalah analisa berdasarkan perkembangan harga saham, dan untuk menghitung CAPM juga harus diketahui historis dari harga saham tersebut.
    terima kasih atas penjelasannya

  29. April 18, 2008 pukul 10:13 pm

    thank’s so much
    artikelnya lumayan buat ngerjain tugas sks (sistem kebut semalam)

  30. ayu
    April 19, 2008 pukul 2:43 pm

    siang pak….
    Ada lagi yg mau sy tanyakan mngenai return yg sy peroleh mnggunakan CAPM. sy meneliti ALFA Retailindo dan menemukan ada thn2 tertentu return bernilai negatif. Ada beberapa penelitian yg mengatakan bahwa return saham itu dipengaruhi oleh faktor ekonomi makro. Di dlm buku Sawidji widoatmodjo “Teknik memetik keuntungan di BEJ” ditulis kalau untuk perusahaan yg menghasilkan produk2 untuk kebutuhan masyarakat sehari2, returnnya tdk dipengaruhi oleh faktor ekonomi krn baik dlm keadaan resesi atau booming pun masyarakat pasti membutuhkan. Jadi yg mnjadi pertanyaan sy disini faktor apa yg mempengaruhi nilai beta atau return saham yg bernilai negatif itu?
    terima kasih sblumnya.

  31. April 23, 2008 pukul 11:18 am

    To Mas Iqbal

    Penilaian saham dengan CAPM bukan analisis teknikal, penilaian saham dengan CAPM merupakan analisis dengan model statistik.
    Analisis teknikal dibangun atas pencarian trend baik menggunakan grafik maupun menggunakan formula trend. Model ARIMA-pun sudah bukan dikatergorian sebagai analisis teknikal, karena walaupun dianggap sebagai atheory model, akan tetapi model arima merupakan model ekonometrik yang memiliki dasar teori.
    Model CAPM bukan merupakan model yang terbaik, akan tetapi model CAPM sangat berguna sebagai dasar analisis investasi.

  32. April 23, 2008 pukul 11:46 am

    To Ayu

    Menurut saya komentar dari Sawidji widoatmodjo tersebut tidak benar, mungkin yang dimaksud adalah hukum engle yang menyatakan bahwa untuk makanan, konsumsi bahan pangan tidak meningkat sejalan dengan peningkatan penghasilan masyarakat, misalnya ayu sekarang berpenghasilan 3 juta per bulan dan makan nasi sehari 3 piring, apabila penghasilan ayu menjadi 12 juta per bulan, ayu tidak akan makan nasi sebanyak 12 piring sehari, mungkin cuma 4 piring sehari.
    Untuk ALFA Retailindo, bila penghasilan ayu berkurang, pasti ayu akan mengurangi pengeluaran untuk belanja di ALFA (asumsinya ayu adalah pelanggan ALFA), hal ini mempengaruhi return pada ALFA, jadi faktor ekonomi mempengaruhi saham ALFA (pasti).

  33. Richard
    April 25, 2008 pukul 11:55 am

    Saya lagi menghitung saham CPRO dengan DCF, apakah CAPM merupakan metode yang paling tepat untuk menghitung cost of
    equity?,kalau ya, bagaimana caranya. Kalau tidak metode apa yang bisa digunakan.

    Regards

  34. April 27, 2008 pukul 12:26 pm

    CAPM bukan model yang paling tepat, akan tetapi CAPM berguna untuk memperkirakan harga sekuritas.
    Karena penjelasanya cukup panjang, coba anda baca Buku Corporate Finance karangan Ross, Westerfield dan Jafee pada bab mengenai konsep dasar struktur modal. (buku saya edisi ke-7 pada halaman 412-416)

    Contoh kasus diambil dari buku tersebut:
    Acetate, Inc. has equity with a market value of $20 million and debt with a market value of $10 million. The cost of the debt is 14 percent per annum. Treasury bills that mature in one year yield 8 percent per annum, and the expected return on the market portfolio over the next year is 18 percent. The beta of Acetate’s equity is 0.9. The firm pays no taxes.

    a. What is Acetate’s debt-equity ratio?
    DER = $10.000.000/$20.000.000 = 0.5

    b. What is the firm’s weighted average cost of capital?
    Answer
    B/V = ($10.000.000)/($10.000.000+$20.000.000)
    = 0.3333
    S/V = ($20.000.000)/($10.000.000+$20.000.000)
    = 0.6667
    rs = rf + β(rm-rf)
    = 0.08 + 0.9 x ( 0.18 – 0.08 )
    = 0.08 + 0.9 x 0.1
    = 0.17 (Cost of capital)
    rWACC = rB + rS
    = (0.3333 x 0.14) + (0.6667 x 0.17)
    = 0.16
    Firm’s weighted average cost of capital is 16%

    c. What is the cost of capital for an other-wise identical all-equity firm?
    Answer
    rS = r0 + (B/S)(r0 – rB)
    r0 = 0.16
    Cost of capital for an other-wise identical all-equity firm = 16%
    (In a world with no taxes, cost of capital for an all-equity firm is equal to rWACC for a levered firm).

  35. April 27, 2008 pukul 12:39 pm

    Damodaran on Valuation: Security Analysis for Investment and Corporate Finance (Wiley Finance) (Hardcover) by Aswath Damodaran
    Book Description:
    Damondaran on Valuation will not only convince you of the vitality of the many valuation models available to you, it will help ensure that you develop the acumen needed to select the right model for any valuation scenario. Written by a gifted teacher and respected valuation authority, Damodaran on Valuation offers systematic examination of the three basic approaches to valuation – discounted cash-flow valuation, relative valuation, and contingent claim valuation – and the various models within these broad categories. Using numerous real-world examples involving both US and International firms, the book illuminates the purpose of each particular model, its advantages and limitatations, the step-by-step process involved in putting the model to work, and the kinds of firms to which it is best applied. Among the tools presented are designed to: * Estimate the cost of equity – including the capital asset pricing model and arbitrage pricing model * Estimate growth rates – with coverage of how to arrive at a weighted average of growth rates by blending three separate approaches * Value equity – focusing on the Gordon Growth Model and the two-and three-stage dividend discount model * Measure free cash flow to equity – cash flows that are carefully delineated from the dividends of most firms * Value firms – including free cash flow to firm models, which are especially suited to highly leveraged firms * Estimate the value of assets by looking at the pricing of comparable assets – with insight into the use and misuse of price/earning and price/book value ratios, and underutilized price-to-sales ratios * Measure the value of assets that share option characteristics – including a comparative look at the classic Black-Scholes and simpler binomial models. Supported by an optional IBM-compatible disk, which consists of spreadsheet programs designed to help users apply the models highlighted in the book, Damodaran on Valuation provides practitioners involved in securities analysis, portfolio management, MandA, and corporate finance with the knowledge they need to value any asset.

  36. Yudi
    Mei 4, 2008 pukul 12:38 am

    pagi pak,
    saya ingin penjelasan lebih lanjut mengenai:
    1. Penyesuaian yang harus dilakukan agar CAPM dapat dilaksanakan dalam pengelolaan investasi.
    2. Pengaplikasian konsep CAPM dalam engelolaan incestasi.
    3. Pendapat bapak tentang validitas teori CAPM dalam pengelolaan investasi.

    thx ya pak, saya tunggu jawabannya…

  37. Mei 4, 2008 pukul 8:57 pm

    Dalam pengelolaan Investasi, investor maupun manajer investasi tidak hanya tergantung pada hasil perhitungan nilai saham berdasarkan CAPM saja. Aplikasi pada dunia nyata CAPM tidak mudah dilakukan, akan tetapi CAPM nilai beta dan value saham dijadikan salah satu pertimbangan. Tentunya CAPM bukannya tidak berguna, akan tetapi dalam dunia nyata akan sangat tidak bijaksana bila mendasarkan nilai saham berdasarkan CAPM saja, banyak tool lain yang digunakan untuk investasi, misalnya sharpe’s ratio dlsb.
    Menurut saya, CAPM sebagai teori sangat berguna bagi pengelolaan investasi, misalnya konsep beta saham, mencari saham yang undervalue (walaupun hal ini dalam teori pasar efisien tidak dimungkinkan).

    Dengan sedikit kreatifitas investor, mungkin akan dapat menemukan harga saham yang undervalue.

    Ada cerita mengenai dua orang professor ekonomi sedang berjalan bersama, tiba-tiba mereka melihat uang di jalan. Professor pertama berkata “Tidak usah diambil, kalau uang itu benar-benar ada, orang lain pasti sudah mengambilnya terlebih dahulu dari kita”

  38. zie..
    Mei 14, 2008 pukul 9:51 am

    Pagi Pak Yohan….
    Saya ingin menanyakan beberapa hal mengenai CAPM.
    1. Apakah CAPM bisa digunakan dalam menganalisis portofolio optimal?bagaimana langkah2nya?
    2. jika dibandingkan dengan model indeks tunggal, mana yang lebih bisa dipertanggungjawabkan?
    3. jika qt ingin menganalisis portofolio optimal dengan menggunakan 2 model diatas (komparasi)apakah memungkinkan?dan akankah memekan waktu yang cukup lama?
    demikian beberapa hal yang saya ingin ketahui…mohon penjelasannya. terimakasih.

  39. Mei 21, 2008 pukul 7:58 am

    CAPM digunakan untuk mendapatkan nilai return dan risikonya untuk saham individu.

  40. andri
    Mei 27, 2008 pukul 5:22 pm

    Pak, saya sedang mengerjakan thesis menggunakan metode CAPM untuk menghitung besarnya cost of equity, apakah bisa kita menghitung besarnya risk premium menggunakan selisih antara IHSG dan SBI rate ? kalau bisa yang digunakan return IHSG selama berapa tahun ? kalau menggunakan return IHSG selama 5 tahun hasilnya akan sangat besar.. mohon penjelasannya pak.. thanks..

  41. Juni 2, 2008 pukul 6:16 pm

    Mas punya data return saham tahun 2005 sampai 2007 manufaktur dan perbankan?

  42. edi
    Juni 3, 2008 pukul 1:02 pm

    pak, bagaimana kerangka pemikiran dalam menganalisa portofolio optimal dengan metode CAPM.mohon bantuannya. selain buku dr. suad husnah buku apa saja yang dapat digunakn sebagai referensi dalm menganlisa CAPM? trimakasih sebelumnya.

  43. Juni 3, 2008 pukul 10:02 pm

    Data saham, query saja dari situs bursa efek indonesia.

    Coba baca tulisan saya di atas, seharusnya sudah terjawab, Buku referensi coba Investment karangan Bodie dkk sudah ada terjemahannya sekarang.

  44. cai
    Juni 6, 2008 pukul 10:27 am

    pak, saya melakukan penelitian mengenai beta dalam metode CAPM. nah dalam metode CAPM tersebut kan, pasar yang diteliti harus yang efisien sedangkan di indonesia pasar tersebut tidak efisien. pertanyaan saya apakah antara IHSG dan LQ45 mana yang bisa dikatakan mendekati efisien, dan mengapa? mana yang sebaiknya saya teliti dengan menggunaka metode CAPM tersebut. bisa kasi dasar teorinya ga? makasi sebelumnya..

  45. Juni 6, 2008 pukul 12:02 pm

    Capital Asset Pricing Model (CAPM) mencoba untuk menjelaskan hubungan antara risk dan return. Secara praktik CAPM dapat digunakan sebatas salah satu bahan pertimbangan bagi investor (bukan dasar pertimbangan satu-satunya) mengingat asumsi yang digunakan CAPM tidak terpenuhi semuanya, apapun faktanya, teori CAPM berguna sebagai gambaran hubungan antara saham dengan pasar serta risiko dan return yang diharapkan. Pasar manakah yang dipakai? Semunanya tergantung dari pengalaman empiris investor, mana yang lebih cocok IHSG atau LQ45 (atau bahkan sekarang ada kompas100), secara teori tidak ada yang lebih mendekati efisien karena efisien tidaknya tergantung pada investor dan kondisi yang ada pada pasar tersebut bukan pada sahamnya, semoga anda lebih mengerti.

  46. Juni 6, 2008 pukul 12:06 pm

    Saran saya pakai IHSG mungkin lebih baik, mengingat LQ45 hanya terbatas pada 45 saham saham terpilih (yang memilih BEI) dengan kriteria yang mereka tentukan, saya kurang yakin LQ45 menggambarkan kondisi pasar saham, LQ45 lebih cocok anda gunakan bila anda ingin menyusun portofolio yang memiliki likuiditas lebih baik (walaupun belum tentu)..

  47. Juni 6, 2008 pukul 12:09 pm

    Ini referensi tambahan dari kompas

    KOMPAS – Rabu, 17 Oct 2007 Halaman: 15

    Indeks Kompas100 Boleh Juga…!
    Oleh: Andi Suruji

    KINERJA harga 100 saham emiten yang termuat dalam Indeks Kompas100 tidaklah mengecewakan. Sejak diluncurkan 10 Agustus lalu, indeks baru di Bursa Efek Jakarta ini pantas dijadikan acuan investasi. Dalam dua bulan, kinerjanya bahkan melampaui Indeks Harga Saham Gabungan yang selama ini menjadi acuan utama.

    Sebelum liburan panjang masa Lebaran, indeks Kompas100 ditutup pada posisi 677,96. Itu berarti indeks harga 100 saham yang dimuatnya telah meningkat 20,32 persen dari posisi saat diluncurkan, yang sekaligus menandai 30 tahun diaktifkannya kembali pasar modal di Indonesia.

    Apa artinya? Seandainya Anda seorang investor saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ), memiliki 100 saham dalam Kompas100, dan tak pernah menjualnya sejak 10 Agustus lalu, itu berarti potensi keuntungan dari nilai investasi Anda saat ini sudah meningkat 20,32 persen.

    Itu merupakan angka pengembalian investasi yang tentu saja tidak mengecewakan dalam dua bulan. Bahkan, kinerja itu lebih baik dibandingkan dengan performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEJ yang kenaikannya hanya 17,7 persen dalam periode yang sama. Memang kinerja indeks Kompas100 masih lebih rendah dibandingkan dengan kinerja indeks LQ45 yang terdiri atas 45 saham terlikuid yang diperdagangkan di BEJ.

    Akan tetapi, jika dilihat dari sisi lain, akan diperoleh catatan yang menarik. Selama periode dua bulan itu, Indeks LQ45 sempat terpuruk sampai sebesar 17 persen. Indeks Kompas100 bagaimana? Ia hanya terpuruk 15 persen persen pada saat mencapai level terendahnya di posisi 478,52 poin pada tanggal 16 Agustus.

    Tidak berlebihan jika indeks Kompas100 dinilai lebih tangguh menghadapi tekanan ketimbang LQ45 walaupun LQ45 menjanjikan potensi keuntungan yang lebih tinggi. “Itu karena LQ45 hanya memuat 45 saham terlikuid. Indeks Kompas100, walaupun hanya memuat 100 saham, tetapi sudah menggambarkan keseluruhan sektor dan saham-sahamnya paling sering diperdagangkan di bursa. Tidak ada lagi saham tidur di dalamnya, seperti halnya banyak saham yang diam saja berhari-hari dalam IHSG,” kata pengamat pasar modal, Adler Haymans Manurung.

    Kini bahkan sudah ada manajer investasi yang sedang menyiapkan sebuah produk inovatif semacam reksa dana (fund) yang mengacu pada Kompas100. Produk itu bisa mengacu pada indeks Kompas100 saja, bisa juga portofolio investasinya hanya pada saham-saham yang termasuk dalam Kompas100.

    Memang itulah tujuannya. “Indeks Kompas100 diharapkan bisa menambah variasi acuan investasi bagi pemodal. Bisa juga menjadi pendorong manajer investasi untuk membuat produk inovatif,” kata Direktur Utama BEJ Erry Firmansyah.

    Indeks lain

    Catatan bisa diperpanjang jika membandingkan indeks Kompas100 dengan beberapa indeks harga saham di bursa lainnya. Hang Seng Hongkong, misalnya, memang melonjak sampai 29,8 persen, indeks Strait Times Singapura naik 13,55 persen.

    Akan tetapi, jika dibandingkan dengan indeks utama lainnya, Kompas100 bolehlah…! Tengoklah indeks Financial Times di London yang cuma naik 7,3 persen dalam dua bulan ini. Dow Jones Industrial Average di bursa efek New York yang merupakan acuan investor seluruh dunia hanya naik 5,4 persen, indeks Jepang Nikkei-225 malah cuma 1,67 persen. Pasar saham di sana memang tertekan.

    Bagaimana prospeknya? Secara umum, analis memperkirakan harga saham di BEJ masih memiliki ruang yang cukup lebar untuk naik. Alasan pendukungnya, kondisi makro perekonomian cenderung membaik. Pertumbuhan ekonomi cukup mendorong harga saham naik tanjakan yang belum mencapai puncaknya. Sejumlah emiten masih memiliki prospek pertumbuhan usaha yang menjanjikan. Adanya pertumbuhan usaha berarti adanya potensi kenaikan keuntungan yang bisa dibagi sebagai dividen kepada para pemegang saham.

    Itulah karakteristik investasi saham. Investor membeli “prospek kinerja yang baik” dan menjual “prospek kinerja yang jelek”. Mereka memburu saham yangberprospek baik sehingga indeks bergerak naik. Sebaliknya, mereka melepas saham yang berprospek buruk sehingga indeks tertekan.

    Alasan lainnya, prospek suku bunga masih cenderung menurun. Saat ini memang masih ditahan oleh bank sentral, Bank Indonesia. Akan tetapi, manakala Bank Sentral Amerika Serikat menurunkan lagi suku bunganya untuk menolong pasar saham di negeri “Paman Sam” itu dari tekanan berat krisis finansial akibat kehancuran pasar surat utang berbasis kredit perumahan subprime mortgage, suku bunga di Indonesia pun bisa diturunkan lagi. Langkah itu untuk mempersempit suku bunga di AS dan Indonesia agar biaya moneter bank sentral dikurangi.

    Faktor suku bunga

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun melempar sinyal bahwa inflasi yang dicanangkan pemerintah masih bisa berada dalam rentang targetnya, yakni enam persen plus-minus satu persen. Jika demikian, suku bunga benar-benar bisa turun lagi.

    Apa kaitannya? Jika inflasi terjaga, nilai aset masyarakat tidak akan tergerogoti kenaikan harga. Imbal hasil investasinya pun masih jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi. Kalau suku bunga turun, berarti potensi imbal hasil investasi atau penempatan dana pada perbankan menurun. Dalam kondisi seperti itu, investor atau pemilik dana biasanya mengalihkan dananya sebagian ke pasar modal, mencari efek-efek yang berpotensi memberi imbal hasil lebih tinggi dari penempatan dana di perbankan.

    Mengalirnya dana itu masuk bursa memburu saham unggulan, seperti yang tercakup dalam Kompas100, berarti potensi kenaikan harganya pun terbuka lebar. Itu perhitungan pasar saja. Jika permintaan meningkat, sementara pasokan barang bagus yang tersedia masih terbatas, jelas harga berpotensi naik.

    Namun, sebagaimana karakteristik investasi saham, risiko fluktuasi harga, risiko penurunan kinerja emiten, juga ada. Investasi saham memang bukan semata-mata dipengaruhi faktor fundamental dan teknikal. Naik dan turunnya harga juga dipengaruhi sentimen pasar.

    Jika investor hendak merealisasikan potensi keuntungan ivestasinya, saham yang hendak dijual menjadi lebih banyak. Jika barang yang hendak dijual lebih besar ketimbang permintaan beli, biasanya harga tertekan.

    Ada potensi keuntungan, ada juga risiko.

  48. Juni 6, 2008 pukul 12:11 pm

    tambahan referensi mengenai lq 45

    Indeks LQ45 hanya terdiri dari 45 saham yang telah terpilih melalui berbagai kriteria pemilihan, sehingga akan terdiri dari saham-saham dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang tinggi. Saham-saham pada indeks LQ45 harus memenuhi kriteria dan melewati seleksi utama sebagai berikut :
    Masuk dalam ranking 60 besar dari total transaksi saham di pasar reguler (rata-rata nilai transaksi selama 12 bulan terakhir.
    Ranking berdasar kapitalisasi pasar (rata-rata kapitalisasi pasar selama 12 bulan terakhir)
    Telah tercatat di BEJ minimum 3 bulan
    Keadaan keuangan perusahaan dan prospek pertumbuhannya, frekuensi dan jumlah hari perdagangan transaksi pasar reguler.

    Saham-saham yang termasuk didalam LQ45 terus dipantau dan setiap 6 bulan akan diadakan review (awal Februari, dan Agustus). Apabila ada saham yang sudah tidak masuk kriteria maka akan diganti dengan saham lain yang memenuhi syarat. Pemilihan saham-saham LQ45 harus wajar, oleh karena itu BEJ mempunyai komite penasehat yang terdiri dari para ahli di BAPEPAM, Universitas, dan Profesional di bidang pasar modal.

  49. Juni 6, 2008 pukul 12:12 pm

    http://www.idx.co.id/SecondaryMenu/FAQ/tabid/105/Default.aspx

    diambil dari idx faq

    A. Stock List

    Where can I find the list of LQ 45 stocks?

    To find the list of LQ 45 Stocks, you can login to the IDX website at http://www.bei.co.id, and at the bottom right of the homepage, you will find the ‘Stock List’ menu. Click on the ‘LQ 45′ menu, where you can find the list of stocks included in the LQ 45.

    What is LQ 45 and what are its criterias?

    LQ 45 is an index that consists of 45 chosen stocks with high liquidity and strong market capitalization.

    To be included in the LQ 45 index, a stock must fulfill the criteria below:
    – Included in the top 60 highest total transactions value in regular market for the
    last 12 months.
    – Included in the top 60 highest market capitalization value for the last 12 months
    – Have been listed in the IDX for at least 3 months.
    – Have a good financial condition, prospect of growth, high frequency and total number of
    transactions in the regular market.

    What is KOMPAS100 Index and what are its criterias?

    KOMPAS 100 Index is an Index of a cooperation between Indonesia Stock Exchange and KOMPAS daily newspaper. It covers 100 stocks, which are choosen based on the criterias below:
    The stocks have been listed in the IDX for at least 3 months.
    The stocks are included in the calculation of the Jakarta Composite Index (JCI).

    The listed companies are considered to have good fundamentals and trading structures by the IDX.
    The stocks are included in the list of 150 biggest stocks in transaction value, frequency of transaction, and market capitalization for the last 12 months.
    From those 150 stocks, 60 stocks with the biggest capitalization will be selected.
    And from the 90 stocks left in the list, forty (40) of them will be chosen by considering their performance, such as their total days of transaction, frequency of transaction, and market capitalization in the regular market. The process can be seen as follow:

    i. From the 90 stocks left, IDX will select 75 stocks based on their total days of transaction in the regular market.
    ii. From the 75 stocks, sixty (60) will be chosen based on their frequency of transaction.
    iii. And from those 60 stocks, forty (40) stocks with the biggest market capitalization will be selected.
    The list of 100 stocks is obtained from the addition of the stocks selected in point (5) and (6).

    Every six months, or exactly on every February and August, the stocks list in KOMPAS 100 Index will be renewed. The calculation of KOMPAS100 is started on a base date of January 2, 2002 with a base value of 100.

    What is pre-opening and which stocks are included in it?

    Pre-opening is a process of price forming started before the first session of the trading begins. The purpose of pre-opening is to determine the opening price that suitable with the market condition. However, it does not mean that the closing price of the previous day will become the opening price of today.

    To get the list stocks included in the pre-opening, you can login to IDX Website at http://www.bei.co.id, and at the bottom right of the homepage, you will find the ‘Stock List’ menu. Click on the ‘Pre-Opening’ menu.

    B. Prospectus, Index Data and Stock Price

    Where can I find prospectus of issuers for my research?

    The prospectus of issuers can be found at the Capital Market References Center (CMRC) in The Indonesia Stock Exchange Building, 1st floor of the Second Tower, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190, Phone: 62-21-5153787, contact person: Mr. Yono or Mr. Hanif. Or you can email us at infodesk@cmrc.go.id

    What is Stock Market Index? And where can I find it in the IDX website?

    To learn about the Stock Index, just click on the ‘Education’ menu, and then choose the ‘Stock Market Indices’ submenu. It will give you complete information on Stock Market Indices.

    You can find the Stock Market Index in our website through several ways:
    – Jakarta Composite Index (JCI) graphic. You can observe today’s movement of JIC on the upper
    left side of the website’s homepage.
    – Indices Ticker. You can also observe the indices movement from the ticker on the top middle side
    of the website.
    – Historical Index per daily. You can download historical index price from 2004 by click-ing the
    ‘Go to our Previous Website’ icon on the right side of the homepage. Then choose Download >
    Daily Data > Market_Indices. On that menu, you will find the historical market indices data from 2004.

    How to calculate the Stock Market Index?

    There are several methods used to calculate the index, such as: (1) by calculating the arithmetic mean of the stocks’ price included in the index members, (2) by calculating the geometric mean of individual stock index included in the index members, (3) by calculating the weighted average of the market value. Generally, all composite stock price index, including that in IDX, use the weighted average method of calculation.

    Like other Index calculation in many bourses, the IDX uses the market value weighted average index. The basic formula of the index calculation is:

    Market Value
    Index = ———————– x 100
    Base Value

    Market Value is the cumulative total of today’s stocks multiplied by today’s market price or known as the market capitalization. Base Value is the value counted based on initial price of each share or based on the price that have been adjusted if the issuer has done an activity that change the total number of stocks listed in the Exchange. Adjustment has to be made so that the index will truly reflects the stocks movement.

    Where can I find the stocks price data in the IDX website?

    There are several ways to see the stocks price in the IDX Website:

    – Stock Price Ticker. You can observe the current price of all stocks from the moving ticker
    located in the upper middle of the website’s homepage.

    – Daily Historical Stock Price Data. You can download the stock price data from year 2004
    by click-ing the ‘Go to our Previous Website’ icon on the right side of IDX website’s homepage.
    After that, choose Download > Daily Data > Stock_Quotation. Another way to find the historical
    stock price data of the last 30 days is through the ‘quote search’ menu located in the right side.
    You just type in the stock code and press the ‘search’ button.

    – Daily Historical Stock Price of LQ 45 and JII. You can download the stock price data of LQ 45 and
    JII from year 2004 by click-ing the ‘Go to our Previous Website’ icon on the right side of IDX website’s
    homepage. After that, choose Download > Daily Data > List of LQ 45 Securities Quotation or
    List of JII Securities Quotation.

    C. Financial Report and Issuer’s Performance

    How can I get the complete financial reports of the listed companies?

    You can download the isuer’s financial reports by following the steps below:
    – Click on the ‘Issuer’ menu
    – Choose ‘Financial Report’
    – Choode ‘Soft Copy of the Financial Report’
    – Choose the year of the Report
    – Choose the Period of the Report (Annual, Mid-Year, or Quarterly)
    – Choose the Issuer (In alphabetical order).

    Are there any brief financial reports of the listed companies in the IDX website?

    You can see the brief financial report of the listed company by following the steps below:
    – Click on the ‘Issuer’ menu
    – Choose the ‘Company Profile’
    – Choose the Issuer (in alphabetical order)
    – Click on the ‘Performance Summary’ menu. The file is in PDF format.

    Does IDX website provide listed companies’ data that include their profiles, financial performances, and their stock performances in the secondary market?

    Yes. You can see the listed companies’ brief performance by following the steps below::
    – Click on the ‘Issuer’ menu
    – Choose the ‘Company Profile’
    – Choose the Issuer (in alphabetical order)
    – Click on the ‘Performance Summary’ menu. The file is in PDF format.

    D. Regulations

    Where can I find the IDX regulations in the Website?

    To find IDX regulations:

    – Choose ‘Regulation’ menu
    – Choose the Category of the Regulation you like to access (Listing, Membership, Trading)
    – The regulations are in PDF files

    Where can I find IDX Circular Letters in the Website?

    You can find the Circular Letters in the IDX Website by following the steps below:

    – Choose ‘Regulation’ menu
    – Choose and the year period
    – The Circular Letters are in PDF files

    E. Information on Go Public and the Procedures of Stock Investment

    Where can I find the information regarding the requirements and procedures of going public and stock listing in IDX?

    The information about public offering and the requirements for stock listing in IDX can be found in the ‘How to Go Public’ menu located at the bottom right side of IDX Website’s homepage. The file is in PDF format.

    Where can I find the information about how to become an investor in IDX website?

    The information of stock investment and trading in the IDX can be accessed by click-ing the menu at the bottom right side of the homepage.

    Where can I find the information regarding the trading mechanism in IDX?

    Detail information about the trading mechanism in the IDX can be found in the ‘Trading’ menu. Just click it and then choose ‘Trading Mechanism’.

    When does the trading session begin?

    In the IDX, transaction can be made on certain days, which are called as the Trading Days:

    Trading Day
    Trading Session
    Time
    Monday to Thurday Session I
    Session II
    09.30 AM – 12.00 PM
    13.30 AM – 16.00 PM
    Friday Session I
    Session II 09.30 AM – 11.30 PM
    14.00 PM – 16.00 PM

    F. Information of Brokerage Companies

    Where can I find the names and addresses of all brokerage firms listed in IDX?

    You can find them in our website, http://www.bei.co.id, on the Issuer > Company Profile menu, or you could send an email requesting for the data to webmaster@ bei.co.id. Our team will send you the complete data of all brokerage firms listed in the IDX and their addresses through email.

    Where can I find information regarding the performance of each brokearage firms in the Website?

    You could find the information regarding the performance of a a brokerage firm in our monthly statistic. Just go to the ‘IDX Statistic’ menu on the right side of our website, and choose ‘Monthly’.

    Where can I find the address of a listed company’s branch offices?

    To obtained the data, you can sent us a request through email to webmaster@ bei.co.id. Our team will send you the data you requested.

    G. Others
    Where can I find the number of shares traded in the exchange?

    The data on the number of shares traded in the exchange can be found in our previous website. Just click the ‘Go To our Previous Website’ icon on the right side of the homepage. Then choose Download > Daily Data > Stock Quotation. Choose the available file according to the period of time you are looking for.

    Where can I find the list of stocks in the Main and Development Boards?

    You can find the list of stocks listed in the Main and development Boards by click-ing the ‘Go to our Previous Website’ icon on the right side of the homepage. Then choose Download > Daily Data > List of Main Board Securities or List of Development Board Securities. Thhen select the date.

    Where can I get the 2002 and 2003 daily bid-ask data?

    The 2002 and 2003 daily transaction data can be obtained at the Capital Market References Center (CMRC), The Indonesia Stock Exchange Building, Second Tower 1st floor, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190, Phone: 62-21-5153787, or you can request the data by email to Mr. Yono or Mr. Hanif at infodesk@cmrc.go.id.

    Where can I find the data of companies that performed stock split in 2006 and the number of shares they have before and after the stock-split?

    The 2006 stock split data can be obtained from the IDX Statistics 2006 publication, which you can copy at the Capital Market References Center (CMRC), The Indonesia Stock Exchange Building, Second Tower 1st floor, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190, Phone: 62-21-5153787, or request by email to Mr. Yono or Mr. Hanif at infodesk@cmrc.go.id.

    Where can I find the information on the corporate actions of a listed company during 2004 – 2006?

    You could search for the data through our menu located in the right side of our website’s homepage. Click the menu, type in the stock code, click all the options available, and choose the period you wish to review. Another way, you can find the data in the IDX Annual Statistics publication, which you can copy at the Capital Market References Center (CMRC), The Indonesia Stock Exchange Building, Second Tower 1st floor, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190, Phone: 62-21-5153787, or request by email to Mr. Yono or Mr. Hanif at infodesk@cmrc.go.id.

    KOMPAS 100 Index is an Index of a cooperation between Indonesia Stock Exchange and KOMPAS daily newspaper. It covers 100 stocks, which are choosen based on the criterias below:
    The stocks have been listed in the IDX for at least 3 months.
    The stocks are included in the calculation of the Jakarta Composite Index (JCI).

    The listed companies are considered to have good fundamentals and trading structures by the IDX.
    The stocks are included in the list of 150 biggest stocks in transaction value, frequency of transaction, and market capitalization for the last 12 months.
    From those 150 stocks, 60 stocks with the biggest capitalization will be selected.
    And from the 90 stocks left in the list, forty (40) of them will be chosen by considering their performance, such as their total days of transaction, frequency of transaction, and market capitalization in the regular market. The process can be seen as follow:

    i. From the 90 stocks left, IDX will select 75 stocks based on their total days of transaction in the regular market.
    ii. From the 75 stocks, sixty (60) will be chosen based on their frequency of transaction.
    iii. And from those 60 stocks, forty (40) stocks with the biggest market capitalization will be selected.
    The list of 100 stocks is obtained from the addition of the stocks selected in point (5) and (6).

    Every six months, or exactly on every February and August, the stocks list in KOMPAS 100 Index will be renewed. The calculation of KOMPAS100 is started on a base date of January 2, 2002 with a base value of 100.

  50. cai
    Juni 7, 2008 pukul 11:28 am

    trima kasih banyak pak atas masukannya, tapi ada satu yg saya masi agak bingung.

    pengertian beta ada dua, yaitu (1)beta adalah resiko sistematis yang tidak dapat di diversifikasi dan (2)beta adalah tingkat sensitivitas antara return market dgn return saham.

    pertanyaan saya,

    kalo beta adalah resiko, resiko yang ada dalam perusahaan itu termasuk beta bukan? misnya penggunaan utang yang besar menyebabkan meningkatnya resiko perusahaan karena tidak mampu memenuhi kewajibannya di kemudian hari. (default risk)

  51. Juni 7, 2008 pukul 6:34 pm

    Beta dalam CAPM bukan risiko (maaf nulisnya “risiko” bukan “resiko” karena berasal dari bahasa inggris risk) seperti yang dimaksud risiko perusahaan seperti yang anda maksud, beta dalam capm merupakan standar deviasi harga saham dari harga pasar, hasilnya mencerminkan risiko non sistematik (yaitu risiko yang terjadi hanya pada suatu kondisi perusahaan)

  52. Isti
    Juni 28, 2008 pukul 9:55 am

    pagi pak,,,,
    Kalo mau ngitung bobot masing-masing sekuritas pada portofolio optimal dengan model indeks tunggal gimana pak caranya? tolong kasih contohnya ya pak terima kasih banyak

  53. Juni 30, 2008 pukul 8:50 am

    Banyak cara menghitung portofolio optimal, salah satunya adalah dengan metoda optimasi

    1. Tentukan kriteria optimal investor (sesuaikan dengan karakteristik investor, untuk menentukan kriteria ini bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti menggunakan angket, wawancara dengan investor, dlsb)

    2. Tentukan persamaan matematika untuk menghitung nilai fitness.

    3. Hitung fitness supaya memenuhi kriteria optimal dengan menggunakan metoda optimasi.

  54. maria
    Juli 16, 2008 pukul 1:12 pm

    saya ingin menanyakan pengaruh inflasi terhadap beta saham. terimakasih

  55. Juli 16, 2008 pukul 4:43 pm

    Secara logika inflasi otomatis akan mengkoreksi return riil-nya serta return dari risk free asset, risk-free asset dalam hal ini diasumsikan tidak terpengaruh return riilnya (karena bebas risiko, termasuk risiko penuruan return karena inflasi). Sehingga secara teori inflasi mengurangi return riil saham individu (rs) serta return marketnya (rm).

    rs = rf + β(rm-rf)
    β(rm-rf) = rs – rf
    β = (rs – rf) / (rm – rf)

    misalkan rf tetap, rm dan rs dikurangai inflasi (i) sehingga

    rs’ = rs – i
    rm’ = rm – i

    sehingga
    β’ = (rs’ – rf) / (rm’ – rf)
    β’ = (rs – i – rf) / (rm – i – rf)
    β’ = (rs – rf – i) / (rm – rf – i)
    β'(rm – rf – i) = (rs – rf – i)
    rs = rf + i + β'(rm – rf – i)
    rs = rf + i + β'(rm – rf) – β’i
    rs = rf + i.(1-β’) + β'(rm – rf)

    pengaruh kan?
    tapi kalau ada inflasi biasanya rm dan rs juga dikoreksi
    kalau dikoreksi sesuai dengan i awal maka tidak akan ada pengaruh pada beta.

  56. maria
    Juli 25, 2008 pukul 2:59 am

    apa perbedaan (contoh) beta pasar dan beta fundamental?
    apa keduanya (secara bersama-sama)dapat digunakan
    untuk mengukur beta saham?
    terimakasih..

  57. nur
    September 8, 2008 pukul 1:11 pm

    pak..
    bisa tolong dijelaskan apa itu model indeks tunggal? dan yang dimaksud dengan indeks tunggalnya itu seperti apa?
    bagaimana aplikasinya?apa bedanya dengan markowitz? trimakasih…

  58. Tini
    September 14, 2008 pukul 8:42 am

    pagi pak..
    apakah beta pasar sama dengan risiko pasar?
    apa saja variabel-variabel yang mempengaruhi beta pasar? apa kurs valas termasuk? terimakasih banyak

  59. September 14, 2008 pukul 10:41 pm

    To Tini:

    β adalah ukuran dari hubungan paralel dari sebuah saham biasa dengan seluruh tren dalam pasar saham.

    Rs = Rf + βs (Rm – Rf)

    Ingat beta bukan untuk pasar, tetapi untuk saham/group sekuritas tertentu.

    Coba deh direnungkan lagi CAPM, di sini yang dicari adalah return dari sebuah atau beberapa sekuritas dengan mengetahui return pasar, risk free-aset serta indeks beta dari sebuah sekuritas. Tujuannya mencari return sekuritas yang dianggap “wajar” oleh CAPM, lalu dibandingkan dengan return aktual.

  60. September 14, 2008 pukul 11:09 pm

    To Nur:

    Markowitz mengusulkan sebuah model untuk menjelaskan korelasi diantara return sekuritas. Model ini mengasumsikan bahawa return dari sekuritas ke-i tergantung pada sebuah faktor yang mendasari, nilai yang diwakili oleh indeks, dalam notasi matematika dinyatakan sebagai:

    ri = ai + Bi.F + ui

    ri = return sekuritas i
    Bi = Beta dari sekuritas i
    F = indeks (belum tentu indeks pasar)
    ui = error term

    (walaupun selanjutnya markowitz mengusulkan bahwa persamaan itu seharusnya tidak linier, karena ada faktor lain yang mendasarinya)

    lalu pada tahun 1963, William Sharpe menguji persamaan tersebut sebagai penjelasan bagaimana return sekuritas cenderung naik dan turun seiring dengan naik turunnya indeks umum pasar, secara spesifik Sharpe menggunakan persamaan sebagai berikut:

    rit = ai + Bi.rmt + uit

    rit = return dari aset i pada periode t
    rmt = return dari indeks pasar pada periode t
    ai = komponen non-pasar dari return aset i
    Bi = rasio kovarian dari return aset i dan return indeks pasar terhadap varians return indeks pasar
    uit = zero mean random error term

    Model ini disebut model pasar indeks tunggal (single index market model) atau sering disebut market model.

    Dilihat disini pada model markowitz, indeks-nya belum tentu indeks pasar, tetapi pada market model digunakan indeks pasar.

    Contoh perhitungannya ada pada komentar sebelumnya.

  61. Kiki
    September 28, 2008 pukul 10:43 am

    Pak, saya mau tanya… CAPM itu hanya bisa digunakan untuk menilai saham saja yah?? kalau misalkan kita mau memprediksi return dari reksadana, atau index lain, ataupun forex, yang dipengaruhi oleh return pasar, apa juga bsia pakai CAPM?
    Saya sedang membuat skripsi untuk membuat protfolio yang optimal dalam menganalisa saham, index, reksadana dan forex. Kira2 cara metode apa yang bisa saya gunakan??
    Terima kasih banyak pak..

  62. dony
    Oktober 18, 2008 pukul 12:17 am

    pak mohon bantuan…saya sedang menganalisa capm pada SGX {singapore Exchang LTD) hanya saja saya Bingung Untuk menentukan Risk Free yang tepat. mohon bantuanya dalam menetukan risk freenya.. trimakasih…

  63. Oktober 20, 2008 pukul 4:39 pm

    Pakai saja suku bunga yang diissued Monetary Authority of Singapore

  64. ririn
    November 10, 2008 pukul 2:55 pm

    pak saya mau tanya..
    saya sedang menganalisis hubungan risiko dan tingkat keuntungan dengan model CAPM,,bagaimana rumus CAPM itu sendiri dan bagaimana perhitungan dengan statistiknya?
    terimakasih

  65. Satria
    November 11, 2008 pukul 8:06 am

    Pak saya mau tanya tentang CAPM, jika sudah didapat beta dan Ri dari masing-masing perusahaan atau saham ketentuan apa yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam berinvestasi?

  66. rizm
    November 11, 2008 pukul 11:21 am

    btw mas Yo, sy kagum lho ma dosen sy Pak Jogiyanto, beliau bisa2nya ngajarr CAPM td pagi sambil becanda.. bhkn gayanya dimirip2in SBY yg lg negor orang tidur itu lhoo…hehehehehehehe
    kmdn Beliau menjelaskan bhw yg menciptkan CAPM ini adl murid Markowitz, dan brhasil dpt Nobel…bukan krn CAPM yg rumit, justru sgt sederhana namun bs berdampak begitu bsar pd science dunia….wew! (wah pak jogi yg uda professor gt tetep bs menginspirasi kelas meskipun gaya ngajarnya kadang slengekan…hehehehehe)
    Oya, kdg Pak Jogi nge-rap lhooo
    hi5

  67. rizm
    November 11, 2008 pukul 11:22 am

    dosen yg aneh….

  68. November 11, 2008 pukul 2:49 pm

    To: Ririn

    Rs = Rf + βs (Rm – Rf)

    Rs = Expected Return on a given risky security

    Rf = Risk-free rate

    Rm = Expected return on the stock market as a whole

    βs = Stock’s beta, yang dihitung berdasarkan waktu tertentu

    Nilai β dapat dihitung sendiri menggunakan data time series suatu saham/industri dan time series return suatu pasar (misalnya IHSG, NYSE, dll),

    Contoh perhitungan:

    Return saham X dibandingkan dengan pasar

    tahun 1-return saham X = -0.05, return pasar -0.12
    tahun 2-return saham X = 0.05, return pasar = 0.01
    tahun 3-return saham X = 0.08, return pasar = 0.06
    tahun 4-return saham X = 0.15, return pasar = 0.10
    tahun 5-return saham X = 0.10, return pasar = 0.05

    Sehingga rata-rata return saham X adalah 0.066

    Menghitung deviasi return saham X
    tahun 1 = -0.1160
    tahun 2 = -0.0160
    tahun 3 = 0.0140
    tahun 4 = 0.0840
    tahun 5 = 0.0340

    Rata-rata return pasar adalah 0.02 sehingga deviasi return pasar:
    tahun 1 = -0.14000
    tahun 2 = -0.0100
    tahun 3 = 0.0400
    tahun 4 = 0.0800
    tahun 5 = 0.0300

    Kalikan masing masing deviasi return saham dengan deviasi return pasar:
    tahun 1 = -0.1160 x -0.14000 = 0.0162
    tahun 2 = -0.0160 x -0.0100 = 0.0002
    tahun 3 = 0.0140 x 0.0400 = 0.0006
    tahun 4 = 0.0840 x 0.0800 = 0.0067
    tahun 5 = 0.0340 x 0.0300 = 0.0010

    Jumlah = 0.0247

    Pangkat duakan deviasi return pasar
    tahun 1 = -0.14000^2 = 0.0196
    tahun 2 = -0.0100^2 = 0.0001
    tahun 3 = 0.0400^2 = 0.0016
    tahun 4 = 0.0800^2 = 0.0064
    tahun 5 = 0.0300^2 = 0.0009

    Jumlah = 0.0286

    Sehingga Beta untuk saham X adalah 0.0247/0.0286 = 0.86

  69. ririn
    November 18, 2008 pukul 1:07 pm

    1.gimana kalau pakai rumus
    Ri=alfa+βi(Rm)+eit
    sebenarnya saya kurang paham dengan rumus tersebut,,apa alfa yang dimaksud adlh Rf/Rbt
    2. sampel perusahaan apa yang bagus ???
    terima kasih

  70. November 18, 2008 pukul 3:59 pm

    To Ririn:

    1. coba baca lagi tulisan saya, sudah dijelaskan semua kok, sampai cara menghitung beta-nya, rumus no 1 adalah model pasar indeks tunggal (single index market model) atau sering disebut market model.

    2. Sampel? capm bukan masalah bagus/tidak bagus, tidak harus retrun perusahaan sama dengan capm, capm merupakan guideline bagi investor mengenai return yang wajar sesuai dengan risikonya! Gampangannya gini, semakin besar risiko, harus semakin besar harapan returnnya, nah kalau ada suatu sekuritas yang risikonya besar tapi return harapannya kecil, buat apa dibeli!

  71. ririn
    November 20, 2008 pukul 4:19 pm

    ya,,terima kasih ..

  72. ariyn
    Desember 3, 2008 pukul 12:32 pm

    pak, mw tanya..
    sy mw mnghitung nilai intrinsik saham indofood tgl 31 oktober 2008 dengan analisis fundamental metode two stages of DDM. data laporan keuangan 2003-2007.

    u/ menghitung Required rate of return pake Rf nya gimana y?
    pake yg SBI bln oktober 08 aja/Jan-Okt 08/Jan 03-Okt 08? sy bingung.

    waktu cari beta saya pake Rf jan 03-Okt 08 (beta dicari dgn slope excess market dan excess return dan excess stock). Rf SBI 1 bulanan saya adjust dengan dibagi 12.
    kira2 benar ga pak?

    terima kasih banyak

  73. Desember 3, 2008 pukul 12:35 pm

    maaf pak ada yg salah ketik. ini yang benar

    beta adalah slope antara excess return of market portfolio dan excess return of stock.

  74. Desember 3, 2008 pukul 3:53 pm

    Kalau utk menilai tgl 31 okt 08, pakai SBI 1 bulan yang berlaku pada hari itu. Menghitung betanya, pakai metode yang saya jelaskan di atas (hitung deviasi) bandingannya dengan IHSG

  75. Desember 3, 2008 pukul 3:54 pm

    Pakai yang ini, bedanya tahun x di ganti aja hari x
    Contoh perhitungan:

    Return saham X dibandingkan dengan pasar

    tahun 1-return saham X = -0.05, return pasar -0.12
    tahun 2-return saham X = 0.05, return pasar = 0.01
    tahun 3-return saham X = 0.08, return pasar = 0.06
    tahun 4-return saham X = 0.15, return pasar = 0.10
    tahun 5-return saham X = 0.10, return pasar = 0.05

    Sehingga rata-rata return saham X adalah 0.066

    Menghitung deviasi return saham X
    tahun 1 = -0.1160
    tahun 2 = -0.0160
    tahun 3 = 0.0140
    tahun 4 = 0.0840
    tahun 5 = 0.0340

    Rata-rata return pasar adalah 0.02 sehingga deviasi return pasar:
    tahun 1 = -0.14000
    tahun 2 = -0.0100
    tahun 3 = 0.0400
    tahun 4 = 0.0800
    tahun 5 = 0.0300

    Kalikan masing masing deviasi return saham dengan deviasi return pasar:
    tahun 1 = -0.1160 x -0.14000 = 0.0162
    tahun 2 = -0.0160 x -0.0100 = 0.0002
    tahun 3 = 0.0140 x 0.0400 = 0.0006
    tahun 4 = 0.0840 x 0.0800 = 0.0067
    tahun 5 = 0.0340 x 0.0300 = 0.0010

    Jumlah = 0.0247

    Pangkat duakan deviasi return pasar
    tahun 1 = -0.14000^2 = 0.0196
    tahun 2 = -0.0100^2 = 0.0001
    tahun 3 = 0.0400^2 = 0.0016
    tahun 4 = 0.0800^2 = 0.0064
    tahun 5 = 0.0300^2 = 0.0009

    Jumlah = 0.0286

    Sehingga Beta untuk saham X adalah 0.0247/0.0286 = 0.86

    • yogi arvianto
      Desember 6, 2010 pukul 11:21 am

      Pak, saya ingin bertanya… bagaimana ya itu prhitungannya untuk mendapatkan deviasi return saham dan return pasar..

      misal yang tahun 1 : deviasi return sahamnya = -0.1160 dan deviasi return pasarnya -0.14000 , bagaimana caranya untuk mendapatkan kedua angka itu..

      itu pake rumus apa ya pak klo yang diketahui itu rata2 return saham dan pasar dan return saham/pasarnya itu sendiri…

      lalu yang ingin saya tanyakan lagi..
      bagaimana kita menetapkan return suatu saham atau pasar pada suatu perusahaan untuk waktu satu tahun itu berapa ? seperti contoh soal yang bapak kasih di atas.. sedangkan bukannya setiap jangka waktu tertentu ada perubahan return ya Pak karena adanya perubahan setiap jangka waktu tertentu..

      Terima Kasih Pak…

      • yogi arvianto
        Desember 6, 2010 pukul 11:29 am

        maksud pertanyaan pertama saya Pak..
        bagaimana kita mendapatkan return suatu saham dan return suatu pasar untuk jangka waktu 1 tahun ? sehingga nantinya akan didapatkan nilai deviasinya dan nilai betanya pada akhirnya…

  76. Desember 4, 2008 pukul 12:22 pm

    terima kasih pak..

    kalau hanya pakai SBI pada saat itu berarti Rm nya juga yang tanggal 31 aja y pak?

  77. Desember 4, 2008 pukul 12:45 pm

    yup! pengertian anda mengenai capm, jangan-jangan salah lho!

    CAPM merupakan model untuk memprediksi return suatu sekuritas yang “pantas” sesuai dengan risiko yang terkandung dalam sekuritas tersebut.

    Jadi bila kita tahu Return market (IHSG) pada hari ini, lalu kita juga tahu return bebas risiko (misalnya SBI), maka untuk dapat menghitung return yang pantas untuk saham tertentu yang diketahui nilai beta-nya, maka persamaan CAPM dapat digunakan. Ingat, sebenarya kita juga bisa mempredisksi return sekuritas tsb, dengan berbagai metode (misalnya diskonto capital flow, dll), lalu kita bandingkan apakah return sekuritas “aktual” tsb dengan return yang pantas menurut capm, apabila ternyata return “aktual adalah 0.2, sedangkan menurut capm return yang pantas adalah 0.1, kita dapat mengatakan sekuritas tersebut baik untuk dibeli! karena return yang didapatkan lebih tinggi dari return yang pantas. Tapi kalau ternyata return “aktualnya” di bawah return capm, maka dapat dikatakan kita membeli saham berisiko tapi hasilnya nggak sesuai.

  78. widwi
    Desember 9, 2008 pukul 3:47 pm

    sore pak
    saya sekarang sedang mengerjakan skripsi mengenai risk dan return dg menggunakan CAPM
    objek yang saya pakai 12 saham industri makanan dan minuman dan saya di ksh saran ma dosen sya utk mnggunakn data mingguan

    stelah datanya saya dpt kan ternyata datanya ada yang g lengkap, maksudnya ada bbrapa emiten yg tidak menampilkan data mingguannya

    yang ingin saya tnyakan, dg data sperti tsbt apakah bisa dihitung dg CAPM??
    sbenarnya saya jg msh blm mengerti bgt ttg CAPM
    sya jg sdh bca buku Bodie(yg terjmahan) namun saya ksulitn utk mengertinya.
    saya mhon bantuan dari pak yohan
    tlng d blz ke email saya sja

    terima kasih pak

  79. Desember 9, 2008 pukul 6:54 pm

    sudah baca artikel ini belum? kalau teknis perhitungannya juga sudah saya jelaskan di komentar. Kalau anda kurang mengerti tth CAPM, kenapa mengambil risk&return? Kalau data emiten yang dibutuhkan return-nya tidak ada, bisa digunakan interpolasi linier/cubic spline, tergantung asumsi yang mau anda pakai, data bulanan juga ok buat menghitung nilai beta-nya, pakai periode yang cukup panjang.

    email saya bisa lihat di daftar isi.

  80. widwi
    Desember 10, 2008 pukul 5:28 pm

    saya sudah baca artikelnya dan itu sangat membantu saya dalam mengenal CAPM
    kalo utk mencari Risiko dan Return nya saya mengerti
    tapi saya sedikit bingung dalam mengaplikasikannya ke CAPM.

    terima kasih pak atas bantuannya

  81. Desember 11, 2008 pukul 10:18 am

    Contoh:

    Mencari Rs (yang dicari selalu Rs, karena ini tujuannya CAPM) suatu sekuritas x yang mempunyai Return 0.27 (27% per tahun) dan nilai betanya 1.2, apakah sekuritas x ini layak di beli atau tidak?

    Rs = Rf + βs (Rm – Rf)

    Rf = misal SBI 1 bulan saat ini adalah 0.06 (6% per tahun)

    Rm = misal return IHSG saat ini adalah 0.26 (26% per tahun)

    βs = 1.2 (<- tahu kan cara ngitungnya)

    Sehingga
    Rs = 0.06 + 1.2 (0.26 – 0.06)
    Rs = 0.06 + 1.2 (0.2)
    Rs = 0.06 + 0.24
    Rs = 0.3 (30%)

    Kesimpulan, dengan nilai beta 1.2, apabila return yang diperoleh hanya 27%, maka harga sekuritas terlalu mahal, karena return wajarnya adalah 30%

  82. fabian
    Desember 18, 2008 pukul 12:31 pm

    boleh tanya gak cara hitung sbi dan rf mingguan selama setahun berapa,jadi dapat 52 minggu tlg jwab ya

  83. fabian
    Desember 18, 2008 pukul 12:35 pm

    tolong jwb ya yg detail rumus nya
    karen aaku lg buat skripsi

  84. panji
    Januari 10, 2009 pukul 3:31 pm

    siang pak..
    Saya bingung dlm penelitian saya,karena Rf yang saya dapat lebih besar dbanding Rm..Apakah dalam hal ini saya salah dlm melakukan penelitian atau memang kondisi perekonomian indonesia sedang tidak stabil..saya sedang meneliti dgn periode tahun 2007 dengan menggunakan IHSG sebagai Rm nya. Saya mendapat ERm = 3,7% sedangkan Rf/SBI = 7%. Sebaiknya saya mengambil Rf darimana, agar tidak terlalu tinggi?
    saya sedang meneliti 2 bank besar di Indonesia, yang hasilnya E(Ri)=3,9% E(Rj)=4,2%
    terima kasih.

  85. panji
    Januari 11, 2009 pukul 8:05 pm

    kalau saya hanya mengambil data setiap akhir bulan saja,apakah data tersebut valid? Karena saya telah mengecheck ulang kalau hitungan saya sudah benar. apakah dalam hal ini capm tidak berlaku di indonesia.
    terima ksh sblmnya.

  86. Januari 12, 2009 pukul 10:17 am

    tidak masalah anda mengambil data setiap bulan, begini kalau misalnya digunakan data akhir bulan dan return diasumsikan diperbandingkan dengan bulan sebelumnya
    IHSGm = Closing IHSG akhir bulan m
    IHSGm-1 = Closing IHSG akhir bulan m+1

    contoh
    penutupan ihsg akhir bulan mei 2007 = IHSGm = 1088.1688
    penutupan ihsg akhir bulan juni 2007 = IHSGm+1 = 1122.3756

    Returnm = (IHSGm+1 – IHSGm)/IHSGm x 12
    Returnm = (1122.3756 – 1088.1688)/1088.1688 x 12
    Returnm = 37.72%

    Ini bukan masalah capm berlaku atau tidak, salah satu konsep capm adalah: apabila risiko sekuritas makin tinggi, maka return wajarnya harus semakin tinggi (high risk high return, low risk low return).

    CAPM digunakan juga untuk menilai kelayakan sebuah sekuritas. Apabila sebuah sekuritas memiliki risiko tinggi tapi return lebih rendah dari acuan capm, maka sekuritas tsb tidak layak dibeli.

  87. panji
    Januari 13, 2009 pukul 4:24 pm

    dalam perhitungan yang bapak berikan, kenapa Return setiap bulan harus mengacu selama 1 tahun?

    Karena dalam perhitungan saya setiap bulan (IHSGm+1 – IHSGm)/IHSGm dimisalkan :
    penutupan ihsg akhir bulan1 2007 = IHSGm = 1088.1688
    penutupan ihsg akhir bulan2 2007 = IHSGm+1 = 1122.3756

    Returnm = (IHSGm+1 – IHSGm)/IHSGm = 0.0314352

    dalam 1 tahun (dimisalkan seluruh kejadian sama) = 0.0314352 x 12 = 0.37722236
    lalu saya menghitung E(Rm) = Jumlah Rm / n
    maka didapat E(Rm)= 0.37722236 / 12 = 0.0314352 = 3.14%

    nah, saya mendapat E(Rm) yang rendah.

    oh iya, saya ingin bertanya tentang Excess Return, apakah Excess Return itu? Apakah benar rumusnya, Return yang diharapkan dikurangi Return yang disyaratkan?

    Maaf pak, jd merepotkan.
    Terima Kasih banyak, atas jawabannya.

  88. Januari 13, 2009 pukul 4:48 pm

    karena return sbi (Rf) itu return 1 tahun!

  89. Januari 13, 2009 pukul 4:55 pm

    Ingat! samakan periodenya! sudah umum pakai satuan return per tahun lah mas…

    misal kita tanya bank, berapa bunga tabungan sekarang, pasti dijawabnya bunga utk 1 tahun (bunga pa, per annual, artinya per tahun) -> misal 4%, jadi kalau dalam 1 bulan bunganya adalah 4%/12 = 0.33%.

    Kalau bunga di kartu kredit umumnya memang dibilang bunga 1 bulan 3%, untuk membodohi masyarakat coba kalau bilang bunga 1 tahunnya 36%, gede banget, orang jadi takut ngutang pakai kartu kredit kan. Tapi kalau orang tanya ke BCA, berapa bunga tahapan sekarang, terus dijawab 0.33% per bulan, pasti nasabah akan berpikir kecil sekali bunganya.

    SBI pakai periode 1 tahun, sehingga bila kita mau menghitung Return market dalam CAPM, jadikan return 1 tahun.

  90. wukir sari
    Januari 14, 2009 pukul 7:44 pm

    pak. bagaimana kalau ada perhitungan probabilita dalam penghitungan beta dalam sistem CAPM?

    apa yg dimaksud dengan probabilita ini…
    dan bagaimana cara menentukannya…
    terimakasih…

  91. urpi hakim
    Januari 16, 2009 pukul 7:27 am

    pagi pak yohan,,

    bisa tolong jelaskan hubungan markowitz dengan CAPM?,
    di buku corporate finance ross chapter 10 hal 255-273 saya sudah cukup mengerti namun halaman selanjutnya saya kurang mengerti, saya menangkap pengertian CAPM itu melakukan pencampuran komposisi saham dengan dengan risk free asset (obligasi) sehingga didapatkan komposisi return yang tinggi dengan standard deviasi yang paling rendah?
    tolong bantuannya, saya masih awam tentang CAPM. terima kasih.

  92. anie
    Januari 21, 2009 pukul 9:04 am

    pagi pak yohan,
    maaf,saya msh kurang jelas utk yg market model.
    saya sdg melakukan penelitian.saya punya rumus :
    E ( Ri ) = αi + βi. E(Rm)
    saya mau tanya, yg dimaksud alpha dan beta di sini brarti bukan alpha koreksi dan beta koreksi,pak?
    trimakasih atas jawabannya.

  93. Januari 21, 2009 pukul 12:28 pm

    semua alpha dan beta itu koefisiennya – hanya beda interprestasi variabelnya baca artikel saya di atas.

  94. githa
    Januari 22, 2009 pukul 3:54 pm

    pa, saya mau nanya mungkin ga sc hasil perhitungan beta dalam analisis EVA Itu negatif? jika ya, apa artinya, dan jika tidak apa alasannya? trus, dalam perhitungan beta menggunakan
    tingkat keuntunagn saham, yang mau saya tanyain yaitu apakah tingkat keuntungan saham (Ri) dapat bernilai negatif?

  95. Januari 23, 2009 pukul 10:09 am

    karena anda menggunakan periode di mana return sekuritas dalam trend menurun. Seharusnya anda menggunakan periode yang panjang (3-10 tahun) untuk mendapatkan nilai beta yang lebih valid

  96. Januari 23, 2009 pukul 12:14 pm

    wukir sari, coba contoh soalnya… biasanya sum(0.xx dikalikan dengan return)

  97. githa
    Januari 27, 2009 pukul 4:21 pm

    pa, saya mau nanya
    perhitungan dalam biaya ekuitas itu terdiri dari Rf dan Rm?
    bener ga pa,? Rf (SBI) dirata-ratakan dalam 1 tahun?
    kalau Rm (IHSG) apakah pake total dalam 1 tahun atau data perbulan dirata-ratakan kembali ? dan apakah biaya ekuitas bisa bernilai negatif? apa penjelasannya?
    terima kasih…………..

  98. ussy
    Januari 30, 2009 pukul 11:22 am

    pa, saya mw nanya tentang rumus biaya ekuitas, yaitu
    Ke=Rf + beta(Rm-Rf). Yang saya ingin tanyakan Rf nya menggunakan rata-rata, apakah Rm nya juga rata-rata atau total dalam 1 tahun?
    soalnya kalo menggunakan Rm yang total, biaya ekuitasnya negatif. Tp klo Rm nya rata2, biaya ekuitasnya positif.
    apa artinya biaya ekuitas yang negatif atau positif?

  99. ussy
    Februari 3, 2009 pukul 10:13 am

    pa, saya mw mencocokkan perhit. thn 2006
    tingkat bunga SBI pada tahun 2006
    jan 12.75
    feb 12.74
    mar 12.73
    apr 12.74
    mei 12.55
    jun 12.50
    jul 12.31
    agt 11.85
    sept 11.25
    okt 10.92
    nov 10.35
    des 9.88
    total 142.57 and rata-ratanya 11.88
    sedangkan untuk Return Pasar diperoleh dari selisih IHSGt-IHSGt-1/IHSGT
    Jan 0.059938
    Feb -0.001345
    Mar 0.075008
    Apr 0.106905
    Mei -0.091785
    jun -0.014837
    jul 0.031586
    Agt 0.058901
    Sept 0.072211
    Okt 0.031285
    Nov 0.086145
    Des 0.050357
    total 0.46437 rata-rata 0.038698
    bagaimana perhitungan biaya ekuitas dengan rumus Ke = Rf + (RM-Rf) dikali Beta dengan angka yang saya berikan diatas, berapa hasilnya? saya ingin membeandingkan perhitungan saya dengan bapak. terima kasih.

  100. ida
    Februari 4, 2009 pukul 4:20 pm

    sore pa, mw nanya
    saya ngitung by modal dengan rumus wacc x modal
    hasilnya malah negatif coz WACC nya udah negatif.
    saya mw tanya apa arti biaya modal jika negatif?
    soalnya di bku ga ada penjelasannya.

  101. amad.m
    Maret 9, 2009 pukul 8:26 pm

    Mohondibuatkan jurnal thesis berhubungan dengan yang diatas. Ku tunggu ya.Tks

  102. Maret 9, 2009 pukul 8:38 pm

    jurnal thesis?

  103. Maret 9, 2009 pukul 8:44 pm

    To Ida, biaya modal negatif, bisa jadi misalnya ada agio saham yang sangat besar sehingga di tahun pertama IPO jumlah agio saham masih lebih besar dari laba yang dibagikan utk pemegang saham. Coba baca buku coorporate finance utk penjelasan lebih lanjut.

  104. Mel
    Mei 16, 2009 pukul 5:20 pm

    hmm, saya mau nanya…
    bagaimana cara kita menentukan beta?
    apakah beta juga berubah dari bulan ke bulan?

  105. nata
    Juni 9, 2009 pukul 9:05 pm

    malm pak..bisa tau ga contoh penggunaannya capm..klo bisa dgn lengkap donk..mulai dari pencarian rf,rm,betanya juga..

    thx

  106. nurulia
    Juni 13, 2009 pukul 7:21 pm

    malem pak.pak sy mw tanya.kan skripsi saya berjudul return dan risilo saham sebelum dan masa krisis ekonomi global,,disini sy menggnkan CAPM sbgai alat analisa,,salah satu dosen pembimbing sya menambahkan UJI PAIRED T-SAMPLE,, stlah sy uji ternyata antara return dan risiko saham sebelum dan masa krisis tidak ada perbedaan yang ckp jauh..dosen sy meminta kira2 penyebab tidak ada perbedaan itu apa ya pak? saya bingung…mksh pak…

  107. admin
    Juni 14, 2009 pukul 9:29 am

    @nurullia risiko yang anda uji tersebut systematic risk atau unsystematic risk? dan bagaimana anda mengukur risiko (pakai beta atau …)?

  108. nurulia
    Juni 14, 2009 pukul 2:51 pm

    saya pake beta pak dg metode capm,,,,,emg ada yg salah ya pak???

  109. admin
    Juni 16, 2009 pukul 1:52 pm

    Beta hanya “perkiraan” unsystematic risk (risiko relatif terhadap pasar) bukan seluruh risk, masa krisis dan masa tidak krisis tentunya sangat mempengaruhi systematic risk (risiko pasar)…

    Jadi memang tidak ada korelasinya kalau unsystematic risk pada masa krisis dan tidak krisis, karena korelasinya sudah tercermin pada systematic risk-nya (risiko pasar). Beta menggambarkan risiko unsystematic risk yang merupakan risiko individu perusahaan yang dipengaruhi oleh spesifik kondisi perusahaan atau faktor lainnya yang berhubungan dengan perusahaan tersebut.

  110. nunki
    Juli 29, 2009 pukul 12:43 pm

    pak, TA saya khan ngitung return saham dengan CAPM.
    saya nggunain data bulanan selama 5 tahun dari januari 2004- desember 2008 buat ngitung return saham dan return pasar, trus betanya dah saya dapet kyak perhitungan bapak diatas. Tapi, saya bingung cara nentuin Risk freenya, apakah saya harus gunakan data sbi desember 2008 atau rata-rata sbi dari jan 2004-des 2008 ya pak???
    terus nentuin Rmnya apakah dari rata-rata return ihsg dikalikan 12 bulan ya pak dalam perhitungan k(CAPM)???

  111. nunki
    Juli 30, 2009 pukul 3:29 pm

    lha, trus kalau saya gunain data 5 tahun dari jan 2004 sampai desember 2008, berarti kalau saya gunakan sbi desember 2008 buat nentuin risk freenya ga masalah ya pak?

  112. titis
    Juli 31, 2009 pukul 2:08 pm

    pak,saya mw tanya, saya ingin menghitung beta tapi saya kesulitan untuk mencari Rm-nya karena Rm yang saya dapat itu berbeda2. jika saya hitung dengan data harian hasil Rm-nya minus, klo saya hitung menggunakan data bulanan atau mingguan hasilnya terlalu besar?????
    jadi saya mw tanya bagaimana cara perhitungan Risk market yang benar dan menggunakan data berapa tahun agar Rm yang dihasilkan valid????trimakasih pak

  113. rika
    Agustus 6, 2009 pukul 10:07 am

    Siang pak..
    akhinya saya menemukan refernsi tentang CPAM juga
    skripsi saya mengambil topik tentang pengaruh tingkat pengembalian pasar dan risiko pasar yang merupakan variabel CPAM terhadap tingkat pengembalian saham..

    yang ingin saya tanyakan apa kah ada variabel-variabel CPAM yang lebih releven untuk menentukan tingkat pengembalian saham..

    thanks..
    adakah referensi bacaan tentang CPAM dalam bahasa indonesia…

  114. Agustus 6, 2009 pukul 11:56 am

    CAPM not CPAM…
    Variabel yang dipakai CAPM adalah:
    1. tingkat suku bunga bebas risiko
    2. Beta saham -> tingkat risiko saham
    3. tingkat return pasar yang diharapkan
    Untuk memprediksi tingkat return saham…

    Kalau risiko pasar jangan diartikan risiko saham yang ada di CAPM lho…

    Model ini sebenarnya sederhana sekali seperti yang sudah saya jelaskan di artikel.

    Untuk referensi berbahasa Indonesia saya sarnkan buku investasi karangan william Sharpe dan Bodie, sudah ada terjemahannya berbahasa Indonesia.

  115. Wan2
    September 14, 2009 pukul 10:23 pm

    Pak, saya mw tanya…
    (Rs itu untuk menghitung return yg diharapkan dr suatu saham juga yach selain menggunakan rata2 tertimbang)
    Bagaimana hit Rs nya jika Rm yang didapat negatif(-)
    spt th 2008 Rm nya negatif kan pak?

  116. September 15, 2009 pukul 6:55 am

    Ini adalah mirror blog http://yohanli.com
    Silahkan kirim ulang komentar anda di http://yohanli.com

  117. aryo
    November 6, 2009 pukul 9:52 pm

    bagaimana cara mendapatkan data return saham yang ada di bej kaya saham astra, telkom, bakri tolong balas ke email. mau buat skripsi

  118. yuli
    Mei 14, 2010 pukul 12:25 am

    malam pak….
    saya mo ikut tanya jga neh tntg CAPM
    1. Yang disebut Beta dalam persamaan CAPM ntu apa seh???
    2. bagaimana cara menentukan beta suatu aset dalam persamaan CAPM??
    3. bagaimana menguji CAPM itu berlaku atau tidak di BEI??

  119. handika giri
    November 9, 2010 pukul 1:21 pm

    Terdapat 2 atribut yang berhubungan dengan keseimbangan harga sekuritas.
    Apa yg dimaksud dengan Covariance return equity sequrity dan variance return equity sequrity?
    Terima kasih

  120. shadrina
    Januari 16, 2011 pukul 7:38 pm

    pak, saya mau tanya dimana saya bisa mendapatkan data beta saham yang telah dikoreksi pada perusahan perbankan periode 2007-2009…?? Terima kasih…

  121. RESTU
    Januari 22, 2011 pukul 12:35 pm

    pak, sy mau nanya..
    bagaimana cara menentukan portofolio optimal dengan menggunakan CAPM pada pasar modal yang efisien

  122. Sari
    Maret 2, 2011 pukul 10:40 am

    Saya ingin tanya, saat ini saya sedang menghit WACC untuk go no go investasi proyek.

    Currency yang digunakan dalam cash flow adalah USD. dimana projek yang saya hitung baru akan di implementasikan/dioperasikan 43-4 tahun emndatang. bagaimana saya menentukan nilai cost of debt dan risk free rate yang benar? saya sudah coba pake cost of debt BI (USD)dan risk free rate US gov bond untuk maturity 30 tahun. Namun, hasil WACC nya kecil dari yang seidealnya karena project ini masuk kategori yang memiliki resiko yang besar.

    ada saran bahwa untuk melihat becnhmark proyek yg baru dilakukan bbrp tahun kedepan, untuk cost of debt dan risk free rate yang digunakan di forecast agar angka yg digunakan applicable terhadapa kondisi /waktu implementasi proyek.

    mohon di bantu juga untk menentukan data forecatnya. saya pernah di beritahu hal ini dapat digunakan menggunakan metode ekonometri. lalu bagaimana metode ekonometri tsb?

    terima kasih sebelumnya.

  123. Maret 9, 2011 pukul 6:58 pm

    PAk,,sy mau btanya,,,saya sedang membuat tugas akhir mengenai CAPM untuk analisis kelayakan investasi saham tahun 2007-2009, yang sy tanyakan : data yg saya gunakan adalah daily closing price, SBI per bulan, IHSG per hari tahun 2005-2007,,,itu untuk tahun periode nya bmasalah tidak dgn data na,,,,apakah data yg digunakan harus selsih 1 tahun dr tahun periode atau bisa selisih lebih dr 1 tahun,,,???mohon djawab y pak,,,karena sy bingung sekali…. terima kasih

  124. hilda
    Mei 25, 2011 pukul 11:37 am

    bagaimana mencari return saham dan return pasar? dan apa bedanya return saham dengan return pasar? mohon bantuannya.. thanks..

  125. Oktober 3, 2011 pukul 2:56 pm

    terimakasih pak.. sangat membantu sekali artikel’a sbg bahan kuliah saya..

  126. titaa
    Desember 6, 2011 pukul 6:39 pm

    mau nanya dong.. apa makna “beta” dalam capital ??

  127. Riza
    Februari 1, 2012 pukul 12:47 am

    Pak Yohan, jika data yang saya ingin gunakan untuk pembentukan portofolio optimal adalah return bulanan saham-saham lq45, apakah itu berarti beta saham2 tersebut juga harus memakai beta saham bulanan? ataukah beta tahunan juga boleh? Terima kasih sebelumnya..

  128. Februari 9, 2012 pukul 10:27 pm

    Malam Pak Yohan.
    Kelebihan dan kelemahan menghitung beta dengan Single Index Model itu apa pak jika dibandingkan menggunakan metode CAPM atau beta koreksi???
    terima kasih pak…

  129. caca
    Februari 26, 2012 pukul 4:46 pm

    maaf pak

    saya tuh lagi melakukan penelitian tentang ekspetasi return saham pada perusahaan makanan dan minuman,,
    terus saya bingungnya kalo buat hitung betanya gimana yah hbs saya krg mengerti dgn perhitungan bapak,,,
    terus untuk referensi tentang ekspetasi return saham apa ajj….
    misalnya bukunya apa ajj
    supaya bisa lbh jelas n kalo blh minta softcopy tulisan bapak tentang ekspetasi return sahamnya,,,
    makasi ya,pak

  130. wahyu
    Maret 3, 2012 pukul 10:20 am

    Penggunaan Rf mengambil dari data T-Bond apakah diperbolehkan?

  131. wahyu
    Maret 3, 2012 pukul 10:27 am

    R hasil CAPM bisakah digunakan untuk discount rate pada perusahaan privat, adakah penyesuaian yang perlu dilakukan

  132. Maret 12, 2012 pukul 12:36 am

    Dear Yohanli,,
    Tanya dong, CAPM ini bisa utk menghitung risk dan return dari pergerakan harga emas di ktco.com ga? dengan harapan hasil perhitungannya kita dapat menganalisis berapa lama waktu yang baik utk di recomendasikan menyimpan emas..
    jika tidak bisa, mohon masukannya inti yang ingin dicapai adalah berapa lama emas disimpan untuk mendapatkan hig return dan controlled risk.
    Terimakasih sebelumnya ,,,,

  133. lia
    Maret 16, 2012 pukul 6:22 pm

    kalo saya ingin menganalisa nilai intrinsik saham perusahaan, berapa bulan atau berapa tahun kah saya harus memperhatikan harga saham prusahaan tsb?

  134. Rosi
    Maret 21, 2012 pukul 8:36 am

    Selamat pagi pak, saya mau tanya, untuk rumus Rm bisa diambil dari data ICMD yang hasil nya lansung closing price gak? apa harus mengunakan return saham saja? dan untuk perhitungan beta itu sendiri harus menggunakan statistik ya pak? apa tidak ada rumus lain utk menghitung beta? terimakasih.

  135. huayang
    April 18, 2012 pukul 12:48 am

    saya masih binggung untuk mendaptkan beta …. caranya gimana bisa jelasin lebih jelas

  136. huayang
    April 18, 2012 pukul 12:50 am

    saya masih binggung rumus beta….. bisa jelasin dengan lebih jelas

  137. huayang
    April 18, 2012 pukul 12:54 am

    saya mao hitung rf 2005 sedangkan di web bi/go/id hny 2008 juni …..bingung deh
    ]

  138. hansen
    Juni 1, 2012 pukul 10:49 am

    slamat siang pak. terima kasih pak untuk artikel nya, sangat bermanfaat.
    saya ingin bertanya pak, apakah model CAPM ini dapat saya gunakan sebagai dasar teori pembentukan hipotesis pengaruh BI rate dan (Likuiditas Obligasi di proxy dengan volume trading) terhadap Yield to maturity obligasi.? trims pak.

  139. lena
    Juli 15, 2012 pukul 12:33 pm

    pak saya mau tanya, bagaimana mendapatkan nilai deviasi di atas. misalnya nilai -0,1160 untuk return saham dan -0,14000 untuk return pasar. bagaimana cara mendapatkan dua angka tersebut pak? diatas sudah ada orng yg bertanya tetapi tidak ada jawaban dari bapak. terima kasih pak sebelumnya

  140. fredy
    Oktober 2, 2012 pukul 11:57 pm

    mas ada nggak pengembangan metode capm?
    yg saya tahu ada metode LCPAM(liquidity adjusted capm)…
    apa ada metode pengembangan yg lain?

  141. Rahayudwic
    Oktober 23, 2012 pukul 12:23 am

    Big thanks ya…

  142. Januari 11, 2009 pukul 10:59 am

    Coba check perhitungan Rm-nya. Periode Rm itu harus 1 tahun, kira kira Rm 2007 itu kira kira 10%. Return selalu mengacu periode 1 tahun.

  143. Januari 30, 2009 pukul 12:05 pm

    coba baca penjelasan di komentar, sudah ada.

  144. admin
    Mei 17, 2009 pukul 2:58 pm

    Sudah saya jelaskan sebelumnya kan?

  145. admin
    Juni 10, 2009 pukul 1:06 pm

    Kan sudah ada contoh perhitungannya di atas…

  146. admin
    Juli 29, 2009 pukul 1:08 pm

    Beta diperkirakan dari data historis (t-n … t)
    Risk free -> pendekatan pakai sbi saat t dong…, jadi kalau mau memperkirakan harga “wajar” hari ini, gunakanlah risk free perkiraan hari ini juga, bila mau memperkirakan harga “wajar” 1 bulan ke depan pakailah “perkiraan” “sbi” bulan depan (bukan sbi 1 bulan lhoo..)

  147. admin
    Juli 30, 2009 pukul 3:49 pm

    Lho, anda mau menghitung saham pada periode kapan?
    Begini kalau anda punya data 5 tahun (jan 2004-des2008) boleh utk menghitung beta saham x -> B
    Nilai Beta ini bisa digunakan untuk menghitung return yang seharusnya (wajar) untuk saham (Rs) pada tanggal 5 januari 2009,
    Untuk Rf anda bisa pakai sbi yang berlaku tanggal 5 januari 2009…
    Untuk Rm anda bisa pakai IHSG yang berlaku pada tanggal 5 januari 2009… (bila saat menghitung Beta anda pakai IHSG, dengan asumsi IHSG anda pilih mewakili return pasar)
    misal B (dari data 5 tahun) = 0,8
    misal return ihsg pada tanggal y januari 200x = 0,15
    misal SBI pada tanggal y januari 200x yang berlaku adalah = 0,1
    Rs = Rf + B(Rm-Rf)
    Rs = 0,1 + 0,8(0,15-0,1)
    Rs = 0,14
    -> periksa berapa return “aktual saham”
    Bila return aktual saham = 0,12 maka harga saham dihargai terlalu mahal (overpriced)
    Bila return aktual saham = 0,17 maka harga saham dihargai terlalu murah (underpriced)

  148. admin
    Agustus 4, 2009 pukul 1:25 pm

    Topik ini pernah ada yang tanya…
    Return market kok negatif…
    Kalau anda mau memprediksi return market = misal return market diibaratkan ihsg, sebelumnya anda harus meramalkan dahulu return ihsg sesuai periode yang anda pakai, misal awal januari 2009 jangan menghitung return market dengan cara mengurangkan ihsg jan 2009 dengan ihsg jan 2008, tetapi prediksi berapa nilai ihsg setahun kedepan lalu hitung present value-nya… lalu kurangkan present value ihsg ramalan dengan ihsg aktual dan bagi dengan ihsg aktual.

  149. Wan2
    September 14, 2009 pukul 10:47 pm

    Rm aku pakai IHSG.
    aku hit perbulan Rmjan08= IHSGjan08-IHSGDes07/IHSGdes07 dst (sampai desember 08)
    truz di rata2 kan.. dapet negatif!

  150. Maret 11, 2011 pukul 9:16 pm

    jadi sebaiknya untuk tahun penelitian 2007-2009, saya harus menggunakan data historis tahun 2006-2008,,begitu y pak?????

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: