Beranda > Economics, History of Economics Theory > Butir-Butir Analisis Pemikiran Teori Ekonomi dari Para Ahli Filsafat, Kaum Merkantilis dan Kaum Physiokrat Serta Manfaatnya Sampai Dewasa Ini

Butir-Butir Analisis Pemikiran Teori Ekonomi dari Para Ahli Filsafat, Kaum Merkantilis dan Kaum Physiokrat Serta Manfaatnya Sampai Dewasa Ini


Oleh : Yohan Naftali

Credit to : Prof. H. Masngudi, PhD.










Jakarta 2006

BAGIAN I

Analisis Pemikiran Para Ahli Filsafat

Pemikiran dari para ahli filsafat telah mempengaruhi pemikiran para ekonom sesudahnya. Teori ekonomi telah dibangun selama berabad-abad dan terus disempurnakan hingga saat ini. Para ahli filsafat telah mengupas dasar-dasar pemikiran ekonomi yang kelak akan dianut, diuji dan diperbaharui oleh para ilmuwan di masa selanjutnya. Ilmu ekonomi sendiri bukan dimulai oleh Adam Smith (1723-1790) yang dikenal sebagai bapak ilmu ekonomi, akan tetapi ilmu ekonomi telah dirintis jauh sebelumnya.

Plato (427-347 B.C)

Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Plato)

[Accessed 30 April 2006]

Pemikiran teori ilmu ekonomi telah dirintis oleh para ahli filsafat, dimulai dari ahli filsafat Yunani. Adam Smith (1723-1790) sendiri sebenarnya adalah seorang ilmuwan di bidang filsafat. Sebenarnya ilmu ekonomi memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan ilmu filsafat. Jadi ilmu ekonomi merupakan perkembangan dari ilmu filsafat. Oleh karenanya sangat perlu mempelajari pemikiran dari para ahli filsafat untuk menambah khazanah pengetahuan.

Xenophon (440-355 B.C.) dan Plato (427-347 B.C) berkontribusi pada awal pemikiran teori ekonomi mengenai untung ruginya pembagian pekerjaan. Dalam karya Plato (427-347 B.C) berjudul Republic mendukung negara-kota ideal yang dikuasai oleh kumpulan raja yang bijaksana. Pemikiran dari para ahli filsafat inilah yang memulai pemikiran awal mengenai ekonomi, di dalam uraian Plato (427-347 B.C) dikemukakan bahwa dengan adanya pembagian kerja maka dapat memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan pembawaanya.

Xenophon (440-355 B.C)

Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Xenophon)

[Accessed 30 April 2006]

Pemikiran Plato (427-347 B.C) sedikit banyak juga mempengaruhi pemikiran Adam Smith (1723-1790) yang mengusulkan sistem perekonomian pasar bebas. Walaupun demikian para ilmuwan penganut paham perekonomian pasar bebas menganggap bahwa pemikiran Plato (427-347 B.C) tidak mendukung kebebasan pasar karena adanya peranan pemerintahan yang kuat dalam mengatur ekonomi. Hal ini berbeda dengan pemikiran Aristoteles (384-322 B.C.) yang memberikan dukungan terhadap kebebasan dan sangat mempengaruhi pemikiran Adam Smith (1723-1790) mengenai pembatasan peran pemerintah.


Aristoteles (384-322 B.C)

Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle)

[Accessed 30 April 2006]

Aristoteles (384-322 B.C.) juga telah merintis berkembangnya teori ilmu ekonomi. Dalam kupasan Aristoteles dibedakan antara oikonomi yang menyelidiki peraturan rumah tangga yang merupakan arti asli bagi istilah ekonomi, dan chrematisti yang mempelajari peraturan-peraturan tukar-menukar dan karenanya pemikiran ini dapat disebut sebagai perintis jalan bagi berkembangnya teori ilmu ekonomi.

Dijelaskan selanjutnya bahwa kepala rumah tangga harus mengusahakan pemenuhan kebutuhan secara baik dalam. Jikalau suatu “Oikos” mempunyai kelebihan sesuatu maka dengan sendirinya dan pada tempatnya ditukarkan dengan barang-barang yang berlebihan di rumah tangga yang lain. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa suatu barang dapat digunakan dengan dua jalan yaitu kemungkinan untuk dipakai dan kemungkinan untuk ditukarkan dengan barang lain. Alhasil dari situ dapat diperoleh pengertian di dalam ilmu ekonomi tentang nilai pemakaian dan nilai pertukaran. Kegiatan pertukaran barang dikerjakan oleh para pedagang sebagai mata pencaharian mereka, hal mana sejalan dengan tujuan chrematisti, meskipun menurut para filsuf Yunani pada waktu itu kurang mendapatkan penghargaan kepada kegiatan (profesi) pedagang.


Johannes Calvijn (1509-1564)
Available from: (http://www.biocrawler.com/encyclopedia/John_Calvin)
[Accessed 30 April 2006]

Kurangnya penghargaan terhadap profesi pedagang tersebut berlanjut sampai dengan abad 18 di mana kaum physiokrat menganggap sebagai “classe sterile“, yang demikian pula ahli-ahli agama Kristen menilainya sebagai kegiatan yang tidak pantas. Selanjutnya St. Thomas Aquino (1225-1274) meninjau ekonomi dari sudut kesusilaan menyatakan bahwa bukan dagang itu yang hina, tetapi cara pedagang di dalam melakukan perdagangan yang tercela. Sebaliknya Johannes Calvijn (1509-1564), terlahir di perancis bernama Jean Chauvin, dikenal juga sebagai John Calvin, membela kegiatan pemungutan bunga dan uang karena menganggap keuntungan pedagang timbul karena buah dari kerajinan dan kegiatannya. Johannes Calvijn (1509-1564) mempertahankan dalil bahwa bunga tidak ditolak sama sekali oleh Alkitab.


Martin Luther (1483-1546)
Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Martin_luther)
[Accessed 30 April 2006]

Martin Luther (1483-1546) juga mengemukakan keuntungan pedagang seharusnya merupakan penggantian tenaga dan risikonya bukan karena keuntungan dari suatu keadaan barang kurang. Johannes Calvijn (1509-1564) membela pendirian bahwa keuntungan pedagang timbul dari kerajinan dan kegiatannya, Johannes Calvijn (1509-1564) jugalah yang membela pemungutan bunga uang.

Aristoteles (384-322 B.C.) berpendapat tentang bunga uang mempunyai pengaruh berabad-abad lamanya, menurutnya uang diadakan untuk mempermudah pertukaran barang di antara rumah tangga, dan dengan uang semaunya dapat diukur sehingga dapat diadakan persamaannya. Berdasarkan pendapatnya maka uang dapat dipergunakan sebagai alat penukar, satuan pengukur nilai dan alat untuk menimbun kekayaan. Sedangkan pandangannya mengenai bunga dinyatakan bahwa “menurut sifatnya uang tidak dapat beranak” oleh karena itu keuntungan yang diterima oleh kreditor bukanlah sebagai akibat tenaga ekonomi yang merupakan bagian daripada uang, tetapi itu tidak lain daripada perbuatan yang merugikan terhadap debitor. Penolakan atas bunga dari uang juga diajukan oleh St. Thomas Aquino (1225-1274), kaum skolastik di abad pertengahan serta di lingkungan agama Islam. Namun demikian disadari bahwa peminjaman uang itu memerlukan tenaga, ongkos-ongkos dan kemungkinan terjadinya bahaya maka timbul pemikiran bahwa boleh dimintakan ganti kerugian yang pantas.


Werner Sombart (1863-1941)

Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Werner_Sombart)

[Accessed 14 November 2006]

Werner Sombart (1863-1941) menjelaskan bahwa unsur etik di dalam pembentukan harga semakin terdesak ke samping bilamana keadaan pasar semakin berkembang. Pada abad ke-17 Jacques dan Louis Savary mengemukakan bahwa harga-harga sebenarnya atau harga intrinsik daripada barang diukur dengan ongkos-ongkos yang dibebankan pedagang untuk itu, ditambah dengan apa yang pantas untuk upahnya. Nicholas Oresme (1320-1382) dan Niccolo Machiavelli (1469-1527) melepaskan pandangan teori ekonomi dari ajaran agama dan demikian pula ilmu politik terlepas dari etik.

Niccolo Machiavelli (1469-1527)

Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Niccolo_Machiavelli)

[Accessed 14 November 2006]

Pandangan dari para ahli filsafat memperkaya pandangan dari ekonom dan memberikan dasar pemikiran selanjutnya di dalam ekonomi. Pemikiran mereka telah merintis bagi jalan berkembangnya ilmu ekonomi. Dengan mempelajari pandangan dari para ahli filsafat dapat memberikan gambaran mengenai dinamika perkembangan teori ekonomi dari waktu ke waktu.

BAGIAN II

Analisis Pemikiran Para Kaum Merkantilis

Sebelum abad ke-16 dan ke-17 perdagangan dinilai sebagai derajat yang rendah, kaum merkantilis telah mulai memusatkan perhatiannya kegiatan ekonominya di dalam perdagangan terutama perdagangan luar negeri. Pemikiran kaum merkantilis telah mengangkat pandangan masyarakat dan negara mengenai perdagangan. Emas yang mengalir dari luar ke dalam negeri sebagai akibat perdagangan telah memperkuat negara. Kaum merkantilis sering disebut juga tukang batunya ilmu ekonomi pada abad ke-16 dan ke-17.

Kaum merkantilis tua yang juga disebut sebagai kaum Bullion seperti Hales, Miles, Gerald de Malynes (1586-1641) dan Edward Misselden (1608-1654) menyatakan agar negara memasukkan sebanyak-banyaknya logam mulia murni ke dalam negeri dan menahannya jangan sampai keluar, dalam hal ini uang disamakan dengan kemakmuran.

Gerald de Malynes (1586-1641) dan Sir William Petty (1623-1687) berpendapat bahwa turunnya bunga dan meningkatnya perdagangan, sebagai akibat penting dari bertambahnya uang yang beredar. Pendapat bahwa bunga adalah harga untuk uang ditolak oleh kaum klasik dan para ahli ekonomi sesudahnya sampai dengan John Maynard Keynes (1883-1946) menulis bukunya yang berjudul General Theory of Employment, Interest and Money yang meminta perhatian bagi kebenaran pendapat kaum Merkantilis. Dalam hal ini pendapat Keynes yang membela pendapat kaum Merkantilis dengan teori yang dikenal dengan motivasi “liquidity preferences“.

Charles d’Avenant (1656-1714) menyatakan bahwa kekayaan dalam bentuk uang hanyalah kekayaan mati. Oleh karena itu harus diperbesar tingkat konsumsi masyarakat terutama untuk barang mewah yang diproduksi di dalam negeri. Selanjutnya diakui oleh kaum merkantilis akan aliran logam mulia ke Eropa Barat dalam abad ke-16 dan sesudahnya berakibat meningkatkan tingkat harga umum di negara tersebut. Dengan demikian maka muncullah teori kuantitas uang. Di dalam teori tersebut masih sederhana dinyatakan bahwa keseimbangan antara tingkat harga dengan jumlah uang beredar. Dikemukakan lebih lanjut bahwa penambahan uang beredar dengan satu persen akan berarti naiknya harga dengan satu persen. Hal demikian berarti bahwa koefisien elastisitas tingkat harga terhadap jumlah uang beredar sama dengan satu.

John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa dalam hal ini yang harus diperhatikan bukan hanya jumlah uang yang beredar, tetapi juga cepatnya uang beredar. Dalam hal ini kecepatan berputar daripada uang tidaklah sama untuk semua subyek ekonomi. Menurut taksirannya volume uang yang diperlukan untuk suatu negeri sama dengan 1/15 daripada upah tahunan ditambah ¼ pendapatan para pemilik tanah besar setiap tahun ditambah 1/20 pendapatan para pedagang setiap tahun. Richard Cantillon (1680-1734), seorang bankir Irlandia dan petualang yang beremigrasi ke Paris, menyatakan jumlah uang yang diperlukan sama dengan 1/9 hasil nasional bersih.

Teori kuantitas uang sederhana tersebut kemudian dibelakang hari disempurnakan oleh Irving Fisher (1867-1947), profesor ekonomi dari Yale dan pendiri aliran monetaris, dengan rumus M x V = P x T (M adalah Money yaitu kuantitas uang yang beredar, V adalah Velocity yaitu kecepatan uang atau perputaran uang tahunan, P adalah Price yaitu tingkat harga umum, T adalah Trade yaitu kuantitas barang yang dihasilkan/diperdagangkan selama setahun). Ini berarti bahwa dalam hal kecepatan peredaran uang yang tetap (konstan) dan jumlah barang yang sama yang diperdagankan, maka tingkat harga ditentukan oleh jumlah uang. Irving Fisher (1867-1947) dalam hal ini telah membedakan antara uang kartal yaitu seperti uang logam, uang kertas dan lain-lain serta uang giral yaitu uang dalam bentuk giro, deposito, dan sebagainya yang ada di dalam bank.

Pieter De La Court (1618-1685)
Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Pieter_de_la_court)

[Accessed 14 November 2006]

Kaum Bullion berpendapat bahwa ekspor logam mulia murni harus dilarang sama sekali tidak dijumpai, tetapi yang penting bagaimana nilai ekspor harus lebih besar daripada impor. Pieter De La Court (1618-1685) dari Belanda membuat usulan kepada pemerintahannya:

  1. Untuk memajukan perkapalan dengan perpajakan yang ringan untuk mengangkut barang-barang dari luar negeri.
  2. Mempajaki kapal-kapal luar negeri yang masuk.
  3. Semua barang-barang yang dapat dibuat di negeri sendiri jangan dibebani pajak terlalu banyak.
  4. Semua bahan mentah sama sekali tidak boleh dibebani pajak.
  5. Semua barang-barang luar negeri harus dibebani bea masuk.

David Hume (1711-1776), seorang tokoh ekonomi klasik, mengkritik pemikiran kaum merkantilisme dengan menjelaskan mengenai mekanisme otomatis dari Price-Spice Flow Mechanism atau PSFM. Ide pokok pikiran dari merkantilisme mengatakan bahwa negara/raja akan kaya/makmur bila X>M sehingga LM yang dimiliki akan semakin banyak. Ini berarti Money supply (Ms) atau jumlah uang beredar banyak. Bila Money supply atau jumlah uang beredar naik, sedangkan produksi tetap/tidak berubah, tentu akan terjadi inflasi atau kenaikan harga. Kenaikan harga di dalam negeri tentu akan menaikkan harga barang-barang ekspor (Px), sehingga kuantitas ekspor (Qx) akan menurun.



David Hume (1711-1776)
Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/David_Hume)

[Accessed 14 November 2006]

Dengan adanya kritik David Hume (1711-1776) maka teori pra-klasik atau merkantilisme dianggap tidak relevan. Selanjutnya Adam Smith (1723-1790) menyumbangkan pemikirannya dalam buku yang berjudul “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations” pada tahun 1776. Sehingga muncul teori klasik atau absolute advantage dari Adam Smith (1723-1790). Pendapat Adam Smith (1723-1790) adalah sebagai berikut:

  1. Ukuran kemakmuran suatu negara bukan ditentukan banyaknya LM yang dimilikinya.
  2. Kemakmuran suatu negara ditentukan oleh besarnya GDP dan sumbangan perdagangan luar negeri terhadap pembentukan GDP negara tersebut.
  3. Untuk meningkatkan GDP dan perdagangan luar negeri, maka pemerintah harus mengurangi campur tangannya sehingga tercipta perdagangan bebas atau free trade
  4. Dengan adanya free trade maka akan menimbulkan persaingan atau competition yang semakin ketat. Hal ini akan mendorong masing-masing negara untuk melakukan spesialisasi dan pembagian kerja internasional dengan berdasarkan kepada keunggulan absolut atau absolute advantage yang dimiliki negara masing-masing.
  5. Spesialisasi dan pembagian kerja internasional yang didasarkan kepada absolute advantage, akan memacu peningkatan produktivitas dan efisiensi sehingga terjadi peningkatan GDP dan perdagangan luar negeri atau internasional.
  6. Peningkatan GDP dan perdagangan internasional ini identik dengan peningkatan kemakmuran suatu negara.

Sir William Petty (1623-1687) pada tahun 1679 telah menghitung pendapatan nasional Inggris yang selanjutnya melahirkan ilmu pengetahuan “Political Aritmathic”. Perhitungan pendapatan nasional terus berkembang dan menjadi isu penting di dalam ekonomi sampai dengan dewasa ini. Pendapatan nasional telah dijadikan tolok ukur atas keberhasilan suatu pemerintahan dalam mengatur ekonominya.

Gregory King (1648-1712) dalam tahun yang hampir bersamaan mengumpulkan bahan-bahan yang sama untuk membuat gambar kurva permintaan terhadap gandum dalam suatu kejadian konkrit. Menurut hukum King perubahan dalam penawaran gandum berturut-turut dengan 1/10, 2/10, 3/10, 4/10, dan 5/10, membuat harga berubah dalam arah yang sebaliknya dengan 3/10, 8/10, 16/10, 28/10, dan 45/10. Pemikiran ini semakin dikembangkan dalam teori permintaan dan penawaran oleh ekonom selanjutnya.

Gregory King’s Law, or the “King-Davenant law,” is an estimate of by how much a deficiency in the supply of corn will raise the price of corn. It appears in Davenant’s Essay upon the Probable Methods of making a People Gainers in the Balance of Trade. Since the early 19th century it has usually been attributed to King.

It is observed that but one-tenth the defect in the harvest may raise the price three-tenths, and when we have but half our crop of wheat, which now and then happens, the remainder is spun out by thrift and good management, and eked out by the use of other grain; but this will not do for above one year, and would be a small help in the succession of two or three unseasonable very destructive, in which many of the poorest sort perish, either for want of sufficient food or by unwholesome diet.

“We take it that a defect in the harvest may raise the price of corn in the following proportions:

Defect raises the price above the common rate

1 tenth …………… 3 tenths

2 tenths …………… 8 tenths

3 tenths …………… 16 tenths

4 tenths …………… 28 tenths

5 tenths …………… 45 tenths

So that when corn rises to treble the common rate, it may be presumed that we want above one-third of the common produce; and if we should want five-tenths or half the common produce, the price would rise to near five times the common rate.” (The Works of Sr William D’Avenant Kt, vol. ii, pp. 224, 225, edited by Sir C. Whitworth, London (1771)).

BAGIAN III

Analisis Pemikiran Para Kaum Physiokrat

Tokoh-tokoh kaum physiokrat adalah François Quesnay (1694-1774), Pierre Samuel du Pont de Nemours (1739-1817) dan Charles Gide, di mana paham dari aliran ini yang terpenting bagaimana penguasaan alam. Jikalau kaum merkantilis adalah sebagai perintis ilmu ekonomi, maka kaum physiokrat disebut sebagai pendasar ilmu ekonomi.

Kaum physiokrat sebagai yang pertama memandang kehidupan perekonomian sebagai suatu sistem yang sudah ditentukan dan sebagai suatu sistem yang diatur oleh hukum-hukum tersendiri, dan atas dasar itu dapat dibuat perhitungan dan ramalan-ramalan serta mereka mencoba merumuskan hukum-hukum ini. Para pengikut mazhab physiokrat adalah Mercier De la Rivière (1720-1794), Boudeau, Robert Jacques Turgot (1727-1781), le Trosne, serta Karl Friedrich von Baden-Durlach.

Menurut François Quesnay (1694-1774), seorang doketer, melihat peredaran ekonomi (aliran barang-barang di masyarakat) seperti aliran darah di dalam tubuh manusia. Prinsip dasar pandangan kaum physiokrat adalah di dalam kehidupan harus mendasarkan kepada natural order. Organisasi yang asasi bahwa setiap individu mengetahui kepentingan sendiri, dan selanjutnya yang terbaik mengurus kepentingan sendiri itu adalah setiap orang itu sendiri. Akhirnya kepentingannya sendiri dan kepentingan umum jatuh bersamaan, sehingga bilamana setiap individu dibebaskan untuk membela kepentingannya sendiri, maka juga kepentingan umum akan teriris dengan baik sekali. (leisser faire, leisser passer, le monde va alors de luis meme).

Kaum physiokrat mengembangkan teori harmoni, yakni keserasian antara kepentingan individu dan kepentingan umum (masyarakat). Selanjutnya diketengahkan prinsip ekonomi yang dijadikan dasar umum teori ekonomi kaum physiokrat di mana setiap individu berusaha memperoleh suatu hasil tertentu dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Teori harmoni ini kemudian dilanjutkan kaum klasik yang berbunyi: setiap individu berusaha memperoleh pendapatan sebanyak-banyaknya, dan pendapatan hanya dapat bertambah bilamana subyek ekonomi menawarkan kepada sesamanya barang yang lebih baik dan atau lebih murah, serta pemerintah tidak perlu campur tangan. Pemerintah hanya bertugas di dalam bidang justisi, milisi, pengajaran dan pekerjaan umum. Hal ini merupakan reaksi atas campur tangan pemerintah yang begitu jauh yang diajarkan oleh kaum merkantilis.

Jikalau kaum merkantilis menempatkan perdagangan luar negeri dalam pusat pandangan ekonominya, maka kaum physiokrat menempatkan pertanian dalam pandangan ekonominya. Hanya pertanianlah yang dapat memberikan hasil yang produktif.

Sir William Petty (1623-1687) menyatakan bahwa “labour is the father and active principle of wealth, as lands are the mother“. Petani menuai lebih banyak daripada yang ditaburkannya dan kelebihan ini (atau disebut “produit net“) ditambahkannya sebagai barang (product) baru kepada peredaran perekonomian masyarakat.

Kehidupan perekonomian secara keseluruhan sebagai suatu sistem, François Quesnay (1694-1774) menggambarkan hubungan di antara tiga golongan masyarakat.

  1. Classe productive; yakni para petani.
  2. Classe prosprietaires; yakni para pemilik tanah.
  3. Classe sterile; yakni para pedagang dan industriawan.

Ketiga golongan masyarakat inilah yang dianggap berperanan dalam pembagian pendapatan masyarakat (nasional) yang digambarakan dalam “Tableau Economique“. Selanjutnya ditambahkan golongan pekerja yang disebut classe passive sebagai golongan keempat yang mempunyai arti dalam hubungan konsumsi bukan untuk produksi.

Dalam teori pembagian pendapatan masyarakat (nasional) ini François Quesnay (1694-1774) menyatakan bahwa golongan petani (classe productive) menghasilkan F 5 milyar. Diantaranya F 2 milyar mengalir ke classe prosprietaires dan F 1 milyar mengalir ke classe sterile dan tersisihkan bagi keperluan classe productive sebesar F 2 milyar untuk keperluan sendiri, ternaknya dan bibit.

Selanjutnya dari classe
prosprietaires F 1 milyar digunakan untuk pembelian bahan makanan, yang berarti mengalir kembali kepada kaum petani. Sedangkan F 1 milyar lagi dipergunakan untuk memperoleh barang-barang industri, yang berarti mengalir kepada classe sterile. Penerimaan F 2 milyar classe sterile dipergunakan untuk membeli bahan makanan. Dengan demikian pada akhir proses pembagian pendapatan nasional classe productive menerima kembali F 3 milyar di mana F 1 milyar berasal dari classe des prosprietaires dan F 2 milyar berasal dari classe sterile. Berdasarkan “Tableau Economique” yang disusun Quesnay maka dapat memberikan wawasan kepada suatu pembukuan nasional atau suatu input-output analysis.



Tableau Economique” oleh François Quesnay (1694-1774)

François Quesnay (1694-1774) selanjutnya membedakan konsep nilai dan harga yang cocok digunakan dalam sistem yang dipakainya. Sedangkan tentang harga dibedakan antara harga pokok barang dan harga yang harus dibayar konsumen. Harga pokok menurut François Quesnay (1694-1774) tergantung dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan barang itu untuk pasar. Sedangkan harga penjualan kepada konsumen, biasanya para pedagang berusaha memperoleh marjin uang sebesar-besarnya.

Harga jual hasil- hasil industri sama dengan harga pokoknya, di mana dalam hal ini pedagang hanya dapat memperoleh laba dengan merugikan konsumen. Sebaliknya untuk produk-produk hasil pertanian agar dengan harga jualnya dapat diperoleh laba yang besar guna dilakukan untuk investasi yang mendatangkan tambahan “produit net“.

Perhitungan kaum physiokrat untuk menyerahkan 2/5 dari pendapatan nasional kepada pemilik tanah karena dianggapnya mereka itu sebagai tulang punggung negara. Dari sewa tanah yang diterimanya, harus membayar pajak dan kewajiban sosial lainnya (termasuk pemesanan pembelian barang-barang mewah yang mendorong kemajuan para pengrajin). Dengan demikian maka para pemilik tanah (classe des proprietaires) adalah sebagai penggerak peredaran perekonomian. Selanjutnya sampailah pada suatu slogan “bilamana petani miskin, maka miskinlah negara (kerajaan) dan miskin pulalah rajanya (kepala negara) “pauvre paysans, pauvre royaume, pauvre roi“.

Tapi upah menurut kaum physiokrat dinyatakan bahwa besarnya upah sama dengan ongkos-ongkos hidup. Maka upah akan naik bilamana harga gandum naik. Jadi menurut mereka, untuk kesejahteraan kaum buruh tidak ada artinya tingginya tingkat harga.

Apabila kaum merkantilis dalam menganalisa soal-soal ekonomi banyak mencurahkan perhatian pada soal-soal moneter, maka kaum physiokrat menunjukkan bahwa “tabir uang” membuat samar-samar gejala-gejala ekonomi. Oleh karenanya soal-soal ekonomi yang sebenarnya harus dicari dibelakang tabir uang ini; hal mana diikuti pendapat serupa oleh kaum klasik sampai dengan terbitnya buku General Theory of Employment, Interest and Money yang ditulis oleh John Maynard Keynes (1883-1946).

Teori uang menurut seorang physiokrat bernama Robert Jacques Turgot (1727-1781) mengemukakan bahwa dalam sistem penukaran barang digunakan alat penukar yang lazim dan dikehendaki oleh orang pada umumnya yakni dengan hitungan domba. Lambat laun orang membuat daftar harga-harga itu dalam domba abstrak (dalam angan-angan saja). “Domba abstrak” ini kemudian merupakan satuan perhitungan. Pemikian ini kelak akan menginspirasi akan standar logam mulia (emas) yang didukung oleh Adam Smith (1723-1790), sebagai patokan uang dianggap lebih stabil.

Teori bunga menurut kaum physiokat diketengahkan oleh Robert Jacques Turgot (1727-1781) di mana bahwa uang tidak dapat beranak, tetapi menggunakan teori fruitifikasi (berbuah), jadi dapat berbuah.

Dalam hal pajak, mengingat pemerintah harus bertanggung jawab dalam pendidikan yang memerlukan biaya besar, maka memerlukan sumber pendanaan yang berasal dari pajak. Tetapi berbagai macam jenis pajak disederhanakan dalam “impot direct et unique” (pajak langsung dan tunggal) yang dikenakan terhadap “produit net” sebesar 3/10. Pendapat tentang pajak kaum physiokrat sampai dengan sekarang masih banyak pengikutnya meskipun dengan alasan-alasan yang berbeda, tentang pajak langsung dan tunggal, seperti di Amerika Serikat, Austria dan Jerman. Pemikiran ini mensinyalkan akan debirokratisasi atas pajak serta melandasi pemikiran keadilan pajak yang sampai saat ini masih terus berkembang. Di kemudian hari terbukti bahwa jenis pajak yang bermacam-macam dapat membuka peluang pungutan liar. Pemikiran mengenai pajak nantinya terus disempurnakan.



Robert Jacques Turgot (1727-1781)

Available from: (http://en.wikipedia.org/wiki/Jacques_Turgot)

[Accessed 14 November 2006]

Daftar Tokoh Ekonomi

Xenophon (440-355 B.C.)

Aristotle (384-322 B.C.)

Aquinas, St. Thomas (1225-1274)

Oresme, Nicholas (1320-1382)

More, Sir Thomas (1478-1535)

Bodin, Jean (1530-1596)

Mun, Thomas (1571-1641)

Montchrétien, Antoine de (1575-1621)

Malynes, Gerald de (1586-1641)

Hobbes, Thomas (1588-1679)

Misselden, Edward (1608-1654)

Colbert, Jean Baptise (1619-1683)

Petty, Sir William (1623-1687)

Child, Sir Josiah (1630-1699)

Locke, John (1632-1704)

Vauban, Marshal Sébastien (1633-1707)

North, Sir Dudley (1641-1691)

Newton, Sir Isaac (1642-1727)

Boisguillebert, Pierre le Pesant (1646-1714)

Davenant, Charles (1656-1714)

De Moivre, Abraham (1667-1754)

Mandeville, Bernard de (1670-1733)

Law, John (1671-1729)

Cantillon, Richard (1680-1734)

Montesquieu, Charles Louis de Secondat (1689-1755)

Zincke, Georg Heinrich (1692-1768)

Hutcheson, Francis (1694-1746)

Quesnay, François (1694-1774)

Bernouilli, Daniel (1700-1782)

Bayes, Reverend Thomas (1702-1761)

Hume, David (1711-1776)

Steuart, Sir James (1712-1780)

Mireabeau, Victor de Riqueti, Marquis de (1715-1789)

De la Rivière, Mercier (1720-1794)

Smith, Adam (1723-1790)

Turgot, Robert Jacques (1727-1781)

Galiani, Abbé (1728-1787)

Borda, Jean Charles (1733-1799)

du Pont de Nemours, Pierre Samuel (1739-1817)

Condorcet, Marquis de (1743-1794)

Bentham, Jeremy (1748-1832)

Legendre, Adrien Marie (1752-1833)

Godwin, William (1756-1836)

Saint-Simon, Comte Henri de (1760-1825)

Babeuf, François (1764-1797)

Malthus, Thomas R. (1766-1834)

Say, Jean-Baptiste (1767-1832)

Hegel, Georg Friedrich (1770-1831)

Owen, Robert (1771-1858)

Fourier, Charles (1772-1837)

Ricardo, David (1772-1823)

Sismondi, Jean Charles (1773-1842)

Gauss, Carl Friedrich (1777-1855)

Von Thünen, Johann Heinrich (1780-1850)

Poisson, Siméon Denis (1781-1840)

Hodgskin, Thomas (1787-1869)

List, Friedrich (1789-1846)

Senior, Nassau William (1790-1864)

Carey, Henry Charles (1793-1879)

Quetelet, Adolphe (1796-1874)

Walker, Amasa (1799-1875)

Bastiat, Frédéric (1801-1850)

Cournot, Antoine Augustin (1801-1877)

Dupuit, A.J.E. ( 1804-1866)

Mill, John Stuart (1806-1873)

Proudhon, Pierre-Joseph (1809-1865)

Gossen, Hermann Heinrich (1810-1858)

Hildebrand, Bruno (1812-1878)

Blanc, Louis (1813-1882)

Roscher, Wilhelm (1817-1894)

Marx, Karl (1818-1883)

Juglar, Clément (1819-1905)

Knies, Karl Gustav (1821-1898)

Bertrand, Joseph Louis François (1822-1900)

Galton, Francis (1822-1911)

Cairnes, John Elliot (1824-1875)

Lassalle, Ferdinand (1825-1864)

Bagehot, Walter (1826-1877)

Perry, Arthur Latham (1830-1905)

Walras, Marie Esprit Léon (1834-1910)

Jevons, William Stanley (1835-1882)

Wagner, Adolf (1835-1917)

Schmoller, Gustav (1838-1917)

George, Henry (1839-1897)

Menger, Carl (1840-1921)

Walker, Francis A. (1840-1897)

Marshall, Alfred (1842-1924)

Brentano, Ludwig Joseph (Lujo) (1844-1931)

Wicksteed, Philip (1844-1927)

Edgeworth, Francis Ysidro (1845-1926)

Clark, John Bates (1847-1938)

Pareto, Vilfredo (1848-1923)

Böhm-Bawerk, Eugen (1851-1914)

Wicksell, Johann Gustaf Knut (1851-1926)

Wieser, Friedrich Freiherr von (1851-1926)

Toynbeee, Arnold (1852-1883)

Pearson, Karl (1857-1936)

Veblen, Thorstein (1857-1929)

Hobson, John A. (1858-1940)

Commons, John R. (1862-1945)

Cassel, Gustav (1866-1945)

Fisher, Irving (1867-1947)

Lenin, Vladimir Ilyich Ulyanov (1870-1924)

Yule, George Udny (1871-1951)

Mitchell, Wesley Clair (1874-1948)

Young, Allyn (1876-1929)

Hilferding, Rudolf (1877-1941)

Pigou, Alfred Cecil (1877-1959)

Hawtrey, Ralph G. (1879-1971)

Heckscher, Eli F. (1879-1952)

Slutsky, Evgeny Evgenievich (1880-1948)

Mises, Ludwig von (1881-1973)

Keynes, John Maynard (1883-1946)

Schumpeter, Joseph A. (1883-1950)

Knight, Frank H. (1885-1972)

Hayek, Friedrich August von (1889-1992)

Lindahl, Erik (1891-1960)

Kondratieff, Nikolai Dimitri (1892-1938)

Frisch, Ragnar (1895-1973)

Hotelling, Harold (1895-1973)

Myrdal, Gunnar (1898-1987)

Kalecki, Michael (1899-1970)

Ohlin, Bertil (1899-1979)

Harrod, Roy F. (1900-1978)

Kuznets, Simon (1901-1985)

Morgenstern, Oskar (1902-1976)

Tinbergen, Jan (1903-1994)

Neumann, John von (1903-1957)

Hicks, John R. (1904-1989)

Kahn, Richard F. (1905-1989)

Georgescu-Roegen, Nicholas (1906-1994)

Meade, James E. (1907-1995)

Nurkse, Ragnar (1907-1959)

Kaldor, Nicholas (1908-1986)

Koopmans, Tjalling C. (1910-1986)

Kantorovich, Leonid (1912-1986)

Lewis, Sir W. Arthur (1915-1990)

Available from: http://alpha.montclair.edu/~lebelp/RolodexofFamousEconomists.html [Accessed 30 April 2006]

DAFTAR RUJUKAN

Masngudi. 2006. Handout Ekonomi Internasional Lanjutan. Universitas Borobudur. Jakarta.

Masngudi. 2006. Handout Sejarah Pemikiran Ilmu Ekonomi. Universitas Borobudur. Jakarta.

Skousen, Mark. 2005. Sejarah Pemikiran Ekonomi, Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern. Prenada Media. Jakarta.

http://alpha.montclair.edu/~lebelp/RolodexofFamousEconomists.html

http://en.wikipedia.org/

http://www.biocrawler.com/encyclopedia/


  • About these ads
    1. jaiman1
      Agustus 11, 2008 pukul 5:26 pm

      Good point..
      I learned the history of economic more than 10 years.
      Ecomonics still before. no many change
      back to basic is make more stable

      best regards

    2. November 6, 2008 pukul 3:43 pm

      nice artikel…teory ekonomi tu penting buat kehidupan sehari-hari..bnr ga???

    3. Januari 7, 2009 pukul 6:53 pm

      wow! lengkap banget! kayaknya gak jadi diambil ni. kepanjangan. hehe.. tapi bisa buat referensi buat sewaktu-waktu. thx

    4. lisa
      Februari 7, 2009 pukul 10:57 pm

      artikel bagus. keep on writing

    5. nurwan hamdan
      Desember 4, 2010 pukul 10:19 pm

      Minta tolong siapa sja yg bisa bantu untuk mencarikan teori ekonomi klasik n modern beserta kssimpulannya???

    6. Serafina
      Februari 27, 2011 pukul 3:48 pm

      Mkch.., artikelnya bagus banget….. ^_^

    7. iwanstright
      November 4, 2011 pukul 11:47 am

      thanks’ artikelnya bgs bgt! tugas q slesai akhirnya………………

    1. No trackbacks yet.

    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.