Beranda > Science > Teori Evolusi

Teori Evolusi


Burnie (2005) menjelaskan bahwa dalam sejarah ilmu pengetahuan, hanya sedikit gagasan yang menimbulkan perdebatan seru seperti evolusi. Namun bagi kebanyakan ilmuwan saat ini, kehidupan dan evolusi tidak dapat dipisahkan, seperti halnya materi dan gravitasi. Gagasan bahwa makhluk hidup beradaptasi dan berubah secara perlahan dari generasi ke generasi, telah dianggap sah, sehingga gagasan ini tidak lagi dianggap sebagai teori belaka, melainkan sebagai suatu paradigma yang membentuk semua aspek ilmu hayati.

Russell (2004) menjelaskan bahwa teori Darwin mengandung dua bagian. Bagian pertama mengenai doktrin evolusi yang berpendapat bahwa berbagai bentuk kehidupan berkembang secara bertahap dari suatu leluhur yang sama. Doktrin ini telah dikemukakan oleh Lamarck, dan kakek Darwin, Erasmus. Darwin menyediakan bukti yang berlimpah bagi doktrin ini. Bagian kedua dari teori Darwin adalah perjuangan untuk eksistensi dan bertahan hidupnya makhluk yang paling kuat. Semua hewan dan tumbuhan berkembang lebih cepat daripada kemampuan alam untuk menghidupi mereka, oleh sebab itu, pada setiap generasi banyak yang binasa sebelum masa reproduksi. Hewan dan tumbuhan, lazimnya tidak seratus persen sama dengan induk mereka, namun agak berbeda karena kelebihan atau cacat dalam hal karakteristik yang terukur. Di suatu lingkungan biasa tertentu, anggota-anggota spesies yang sama berjuang untuk bertahan hidup, dan anggota yang paling baik dalam beradaptasi dalam lingkungan memiliki peluang terbaik. Karena itu di antara peluang-peluang yang bervariasi itu anggota-anggota favorit akan berjumlah jauh lebih besar di kalangan anggota-anggota dewasa di setiap generasi. Jadi, dari masa ke masa, rusa akan berlari makin kencang, kucing mengintai mangsa dengan lebih hening, dan leher jerapah makin panjang. Dengan waktu yang mencukupi, mekanisme ini, demikian Darwin berpendapat, mungkin menyebabkan perkembangan yang lama dari protozoa sampai homo sapiens.

Evolusi sebagai suatu gagasan bermula lebih dari 2000 tahun yang lalu. Empedocles, seorang filsuf Yunani yang wafat kira-kira tahun 430 SM, mengusulkan bahwa alam semesta berada dalam keadaan perkembangan bertahap yang mempengaruhi baik makhluk hidup maupun benda-benda mati. Gagasannya berakar dari pemikiran abstrak ketika beberapa filsuf lainnya memperhatikan kehidupan secara terinci. Thales (hidup pada abad ke-6 SM) dan Anaximander (wafat pada tahun 547 SM) meyakini bahwa makhluk hidup pada awalnya muncul dalam atau dari air (Burnie, 2005).

Brookes (2005) menjelaskan bahwa pada pertengahan 1860-an sebagian besar ahli biologi sama-sama berpendapat bahwa pewarisan adalah sebuah proses pencampuran. Seperti mencampur cat, karakteristik induk dianggap bercampur dalam keturunannya, sehingga penampakan dan karakteristik fisik sang anak merupakan gabungan rata-rata dari karakteristik orangtuanya.

Darwin (2007) menjelaskan bahwa organ-organ yang lebih kompleks dan naluri-naluri dapat dan telah disempurnakan, bukan melalui sarana yang lebih unggul daripada (walaupun analog dengan) nalar manusia, tetapi melalui akumulasi variasi-variasi kecil yang tak terhitung banyaknya, yang masing-masing berguna bagi pemilik individualnya.

Brookes (2005) menjelaskan bahwa Jean Baptiste de Lamarck mengemukakan bahwa karakteristik yang diperoleh selama masa hidup seseorang dapat diwariskan. Lamarck menggunakan sebuah contoh mengenai leher jerapah. Menurut Lamarck Nenek moyang jerapah masa kini harus merentangkan lehernya sepanjang mungkin untuk memakan dedaunan di pepohonan tinggi di sabana Afrika. Sebagai hasilnya leher jerapah akan tumbuh sedikit lebih panjang, dan leher yang panjang akan diturunkan ke jerapah generasi berikutnya. Setelah beberapa generasi jerapah yang terus merentangkan leher, hasil akhirnya adalah jerapah berleher panjang seperti yang kita kenal saat ini.

Darwin (2007) mengemukakan bahwa prinsip ketahanan atau survival of the fittest yang disebut seleksi alam membawa peningkatan setiap makhluk dalam kaitan dengan kondisi-kondisi kehidupannya, organik maupun anorganik, dan karena itu dalam banyak kasus harus dipandang sebagai penyebab suatu kemajuan dalam organisme. Meskipun demikian, bentuk rendah dan sederhana akan tetap bertahan, jika bentuk-bentuk ini betul-betul cocok dengan kondisi-kondisi kehidupan mereka yang sangat sederhana.

Darwin (2007) berpendapat bahwa spesies dominan yang mengalahkan pesaing cenderung untuk menyebar luas dan menggantikan banyak spesies lainnya. Alph. De Candolle dalam Darwin (2007) menunjukkan bahwa spesies-spesies yang telah menyebar luas cenderung untuk terus makin menyebar sehingga mereka akan menggantikan dan menggusur habis beberapa spesies di beberapa daerah dan menghentikan penambahan jumlah bentuk-bentuk khusus yang banyak sekali di dunia.

Burnie (2005) juga menjelaskan bahwa pada tahun 1880-an Francis Galton mengajukan bahwa spesies manusia dapat ditingkatkan kualitasnya secara artifisial melalui pemijahan selektif (Eugenika). Eugenika secara harafiah berarti dari keturunan yang baik. Gagasan ini memperoleh kejayaan setelah tahun 1900-an dengan ditemukannya kembali karya Mendel tentang hereditas.

Brookes (2005) menjelaskan bahwa istilah gen pertama kali dikemukakan pada tahun 1909 oleh seorang ahli biologi Denmark bernama Wilhelm Johannsen untuk menggambarkan satu unit pewarisan. Brookes (2005) menjelaskan bahwa tidak ada dua orang yang persis sama. Bahkan kembar identik, yang memiliki komposisi genetik yang sama, tidak persis sama. Keunikan tersebut sebagian disebabkan oleh gen, yaitu suatu set instruksi yang tersandi di dalam tubuh kita. Gen seperti sebuah resep, suatu petunjuk yang membantu menentukan bagaimana tubuh kita bekerja dan bagaimana tampilan fisik kita. Gen tersusun secara linier dalam kromosom, seperti manik-manik yang teronce menjadi kalung. Hampir semua sel dalam tubuh membawa satu set kromosom yang identik. Kromosom selalu berpasangan karena salah satu dari tiap pasang kromosom diperoleh dari ibu dan satunya lagi dari ayah. Seorang manusia memiliki 46 kromosom.

DNA (Deoxyribonucleic acid) atau asam deoksiribonukleat merupakan materi genetik dari sebagian besar organisme. Tiap kromosom adalah sebuah molekul DNA yang sangat panjang. Molekul kimia penyusun DNA dinamakan nukleotida. Satu nukleotida terdiri dari satu molekul gula dan satu molekul fosfat yang terikat pada salah satu basa DNA, yaitu Timin (T), Adenin (A), Guanin (G), dan Sitosin (C). Adenin (A) selalu berpasangan dengan Timin (T), Guanin (G) berpasangan dengan Sitosin (C), sebagai akibatnya, sebuah molekul DNA adalah sepasang urutan huruf yang saling melengkapi dan berukuran sangat panjang. DNA adalah sandi universal. Satu set tiga huruf (triplet) DNA selalu menyandi asam amino yang sama, baik ketika muncul dalam resep genetik bakteri, kol, aardvark, manusia, atau spesies lainnya, misalnya satu set huruf AGC menyandi asam amino serin, TTC adalah sandi untuk asam amino fenilalanin (Brookes, 2005).

Kategori:Science
  1. anis
    Februari 10, 2009 pukul 5:32 pm

    susah banget mencari informasi mengenai evolusi berbagai macam organisme di internet. yang dicari sama yang didapet ngga sebanding .. .. .

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: