Beranda > Economics > Employment

Employment


Loss of Employment Opportunity
Source: Apakabar July, 12nd 2002
Author: Tjan Swie Yong

Some years ago the labor disputes occurred in the Shangrila Hotel and management decided to close the hotel and of course with huge losses. What reason? The reason for the dispute is so close and with jeleknya hotel deems better than not closed. Hotelpun employees lost their jobs and the country where employment is very small, so this is a creation of employment opportunities. Of course, the losses suffered bermilyar Rupiah very heavy, but that the rich do not close mempedulikansebab business is legitimate, and may be a solution that can be considered good. What is considered good? For the other for the hospitality, this is to give an example so that labor does not make offhand strikes. There are allegations that the strikes are controlled by labor organizations to pressure employers. In fact every problem can be well and take the basic WIN WIN SOLUTION, why not do? Entahlah why, but it may be assumed that the walkout DISEASES really meresahkan terms of business. By closing and opening again dikemudian day laborers with a new and improved management that will avoid the long-larutnya problems. Business case for the hospitality business to help deems Shangrila hotel yanglain and things such as going on in Shangrila Hotel can avoided, at least to give lessons that hostility between labor and effort are very detrimental and “rack” with the strike will not necessarily reach the target, which is the welfare of laborers better.

Sony’s factory case, the factory that produces electronics equipment also caused anarchy labor. Ceriteranya like this: at the time that management determines that the policy at the time asembling workers must stand in the position. This practice is already working in the factory asembling. And experience shows that some practices Indonesian workers want is the position to be more relaxed sitting. But darijenis reviewed the work and study and MOTION STUDY TIME, the position of the most stand maximal performance in work. Good management, entrepreneurs and laborers should be one word in MAXIMAL PERFORMANCE companies that benefit from the competition. One of the characteristics of modern business is a tight competition Win. Especially in the era of globalization, competition between companies is not limited kind, but between different companies and different locations around the world. All diperusahaan range must anticipate the problems of competition, both entrepreneurs, and range management personnel in all levels. Yangterjadi dipabrik Sony is pemrotesan by labor and the labor union and the burning spirit dipabrik these workers. This is the emphasis on the management of the factory and of course Sony will continue to follow the reasoning labor management akan this country. Less competitive or efficient does not cause requirement akan closing the business. Sony Corporation is a giant electronics company that is sensitip against the competition, if there are signs the efisienan or the selarasan, should be quickly fixed. Business in Japan, a decision will be taken only with mature, with the exciting debate and a decision is a consideration and the Bottom UP TOP DOWN decisions made, and of course the decisions are taken after the FINAL is thought through from the bottom up and top-down considerations , so can not offhand dirobah. So the management of the factory Sony Indonesia only provide information, and may not change the decision made only because the threat of ministers. Decisions taken at the headquarters level, because the policy throughout the duniadari SONY CORPORATION akan boycott and threats sesungguhnyalah indefensible if issued, and what is done and the boycott decision changed? Or do things beneficial for the government of Indonesia? Of course, no matter the benefit, even very harmful because the government deems too officious and companies can be such INTERVENTIONS coarse. A minister should not make such a threat, because no clear benefit, that when the management asked: “Why close the manufacturer in Indonesia? “Clearly, the answer can Basa Basi, as if the honest can be challenging Mr. Minister, because management is not possible to say that they are not satisfied with the labor policy, or they may not provide answers that are not well: for example the answers may be:” We are very depressed with the extortion tax, or very depressed with the number of smuggling. “Answers such as this is a taboo for employers, especially the Japanese who are very polite and know themselves, so do not hope they will bluntly say what is in your mind mereka.Nah , Unfortunately I berceritera Minister Pak ago that the problem is NOT in DEPNAKERTRANS, but other problems. This means Depnakertrans not guilty and if so there is no improvement or repair business. We should just try to improve the system and continuously on an ongoing basis to improve. This is the most modern work with continuously improving or up-grading possible. No system is perfect, the ongoing maintenance requirement. This also applies disemua department and all the range, if we on the case such as this, means we will continuously strive to improve conditions. Is not this mneguntungkan we all?

Characteristics should be learned by business Depnakertrans range, bukannyamemutuskan everything on the basis of the interests of labor and the government, but thought the competition GLOBAL, MANAGEMENT characteristics, basic POLICY companies, PSYCHOLOGIS laborers and entrepreneurs, and many other factors must be properly . Error in view of the business will result in fatalbagi labor in Indonesia, especially in a position to compete worldwide INTERNATIONAL lose.

One of the possible confusion the government policy is the loss of employment garment and footwear industry. What may be lost? Because the factory-shoe and garment factories moved kenegara others. Because wages and labor conditions in Indonesia do not support this type of industry. The problem is the general increase in wage demands and the workers efisienan us. It is not a secret anymore that the wages in the earlier type of industry are very low, but the closure is a more obvious due to a loss of employment. Workers who became unemployed, and how mungkinmendapatkan job again if the business situation in Indonesia, there is no improvement? What garment and footwear industries still operate another country? Yah, light aja still operate with the cheap labor in China, Cambodia and Vietnam. Is the need to broaden the views or thoughts, even fight for higher wages to be increasing the problems of unemployment and the loss of many jobs. With the variety of experiences not in the labor tasty, the loss of wages and employment problems hopefully make us more able to think and fix condition.

[Spoiler /Show in Indonesian/ /Hide Translation/]
Dimuat di Apakabar 12 Juli 2002
HILANGNYA LAPANGAN KERJA

oleh: Tjan Swie Yong, pengamat industri

Beberapa tahun yang lalu terjadi perselisihan perburuhan di Hotel Shangrila dan management memutuskan untuk menutup hotel tersebut dan tentu saja dengan kerugian besar sekali. Apa alasannya? Alasan pengusaha ialah perselisihan demikian jeleknya dan dengan menutup hotel tersebut dianggapnya lebih baik dari pada tidak ditutup. Pegawai hotelpun kehilangan pekerjaan dan dinegara dimana lapangan kerja sangat sedikit, kejadian ini demikian merugikan terciptanya lapangan kerja. Tentu saja kerugian yang diderita pengusaha bermilyar Rupiah sangat berat, tetapi pengusaha yang kaya raya tak mempedulikansebab menutup usaha adalah sah dan mungkin suatu penyelesaian yang bisa dianggap bagus. Kenapa dianggap bagus ? Sebab bagi pengusaha perhotelan lain,hal ini memberikan contoh agar buruh tidak seenaknya saja melakukan pemogokan. Ada dugaan bahwa pemogokan tersebut dikendalikan oleh organisasi perburuhan untuk menekan pengusaha. Sebenarnya setiap masalah bisa diselesaikan dengan baik dan mengambil pokok WIN WIN SOLUTION , kenapa tidak dilakukan ? Entahlah alasannya, tetapi mungkin saja dianggap bahwa PENYAKIT pemogokan benar-benar meresahkan segi bisnis. Dengan menutup dan dikemudian hari membuka lagi dengan buruh baru dan management yang diperbaiki pengusaha akan terhindar dari berlarut-larutnya masalah. Bagi bisnis perhotelan kasus Shangrila dianggapnya menolong bisnis perhotelan yanglain dan hal-hal seperti terjadi di Hotel Shangrila bisa dihindarkan, minimal memberikan pelajaran bahwa PERMUSUHAN antara pengusaha dan buruh sangat merugikan dan upaya “ MEMERAS “ pengusaha dengan mogok belum tentu mencapai sasaran, ialah kesejahteraan buruh yang lebih baik.

Kejadian di pabrik Sony , pabrik yang memproduksi peralatan elektronika juga disebabkan ANARKI buruh. Ceriteranya begini : pada waktu itu policy managemen menentukan bahwa pada waktu asembling pekerja harus pada posisi berdiri. Ini sudah merupakan kebiasaan pekerjaan di pabrik asembling. Dan beberapa pengalaman menunjukkan bahwa kebiasaan pekerja Indonesia ialah menginginkan posisi duduk agar lebih santai. Tetapi ditinjau darijenis pekerjaan dan dari studi TIME and MOTION STUDY, posisi berdirilah yang paling maximal dalam performance pekerjaan. Baik management, pengusaha maupun buruh harus satu kata dalam PERFORMANCE MAXIMAL agar perusahaan diuntungkan dalam persaingan. Salah satu dari ciri bisnis modern ialah MEMENANGKAN persaingan yang ketat. Apalagi dalam era globalisasi, persaingan tak terbatas antar perusahaan sejenis, tetapi antar berbagai perusahaan maupun berbagai lokasi diseluruh dunia. Semua jajaran diperusahaan wajib mengantisipasi masalah persaingan , baik pengusaha, management maupun jajaran pegawai dalam segala tingkatan. Yangterjadi dipabrik Sony ialah pemrotesan oleh buruh dan kemudian adanya organisasi buruh yang membakar semangat pekerja dipabrik tersebut. Ini merupakan penekanan terhadap management pabrik Sony dan tentu saja akan terus mengikuti pemikiran management akan buruh dinegara ini. Kalah bersaing atau tidak efisien akan menyebabkan KEHARUSAN ditutupnya usaha tersebut. Sony Corporation merupakan perusahaan elektronika raksasa yang sangat sensitip terhadap persaingan, kalau ada tanda-tanda ketidak efisienan atau ketidak selarasan, harus dengan cepat diperbaiki. Dalam bisnis Jepang, suatu keputusan hanya akan diambil dengan pertimbangan matang, dengan perdebatan yang seru dan suatu keputusan merupakan pertimbangan BOTTOM UP dan keputusannya dilakukan TOP DOWN , dan tentu saja keputusan yang sudah diambil adalah FINAL setelah melalui pemikiran dari bawah keatas dan pertimbangan dari atas kebawah, jadi tidak seenaknya saja bisa dirobah. Jadi pemanggilan terhadap management pabrik Sony Indonesia hanya bersifat memberikan keterangan, dan tak mungkin dilakukan perubahan keputusan HANYA karena ancaman menteri . Keputusan diambil pada tingkat kantor pusat , karena menyangkut policy diseluruh duniadari SONY CORPORATION dan ancaman akan BOIKOT sesungguhnyalah tak pantas dikeluarkan dan apa kalau dilakukan boikot kemudian keputusan berubah ? Atau adakah hal-hal yang menguntungkan bagi pemerintah Indonesia ? Tentu saja tak ada hal-hal yang menguntungkan , malah sangat merugikan karena dianggapnya pemerintah terlalu mencampuri urusan perusahaan dan bisa dianggap semacam INTERVENSI KASAR. Seorang menteri tidak sepantasnya melakukan ancaman semacam itu, karena jelas tak menguntungkan, bahwa ketika management ditanya : “ Kenapa menutup pabriknya di Indonesia ? “ Jelas jawabannya bisa BASA BASI , karena kalau menjawab sejujurnya bisa dianggap menantang Pak Menteri , sebab tak mungkin management mengatakan bahwa mereka tak puas dengan policy perburuhan, atau tak mungkin mereka memberikan jawaban yang tak enak: misalnya jawaban yang mungkin saja : “ Kami sangat tertekan dengan adanya PEMERASAN pajak , atau sangat tertekan dengan banyaknya penyelundupan .” Jawaban semacam ini merupakan PANTANGAN bagi pengusaha, apalagi pengusaha Jepang yang dikenal sangat sopan dan tahu diri, jadi jangan harap mereka akan secara blak-blakan mengucapkan apa yang ada dalam benak mereka.Nah, celakanya kan lalu Pak Menteri berceritera bahwa persoalannya BUKAN di DEPNAKERTRANS, tetapi masalah lain. Ini artinya Depnakertrans tidak bersalah dan kalau demikian tak ada perbaikan atau usaha memperbaiki . Seharusnya kan kita memperbaiki sistim dan berusaha terus menerus secara berkesinambungan untuk memperbaiki diri. Inilah ciri bekerja modern dengan terus menerus memperbaiki atau UP-GRADING sebaik mungkin. Tidak ada sistim yang sempurna, berarti KEHARUSAN diperbaiki terus menerus. Hal ini juga berlaku disemua departemen dan semua jajaran, kalau kita berpedoman pada hal semacam ini, berarti kita akan terus menerus berusaha memperbaiki kondisi. Bukankah hal ini mneguntungkan kita semua ?

Seharusnya ciri-ciri bisnis dipelajari oleh jajaran Depnakertrans, bukannyamemutuskan segala sesuatu atas dasar kepentingan buruh dan pemerintah saja, tetapi pemikiran persaingan GLOBAL, ciri-ciri MANAGEMENT , dasar-dasar POLICY perusahaan, PSYCHOLOGIS buruh dan pengusaha, dan banyak faktor lain harus dicermati dengan benar. Kesalahan dalam melihat faktor-faktor bisnis akan berakibat fatalbagi perburuhan di Indonesia, apalagi dalam posisi KALAH BERSAING didunia INTERNATIONAL.

Salah satu contoh kemungkinan kekeliruan policy pemerintah ialah hilangnya lapangan kerja industri sepatu dan garmen. Kenapa bisa hilang ? Karena pabrik-pabrik sepatu dan garmen dipindahkan kenegara lain. Disebabkan kondisi upah dan perburuhan di Indonesia tak menunjang industri jenis ini. Masalah umum ialah tuntutan kenaikan upah dan ketidak efisienan pekerja kita. Sudah bukan rahasia lagi bahwa upah di industri jenis tadi memang sangat rendah, tetapi penutupan jelas lebih merugikan karena hilangnya lapangan kerja. Pekerja-pekerja yang kemudian menjadi pengangguran dan bagaimana mungkinmendapatkan pekerjaan lagi kalau situasi bisnis di Indonesia tak ada perbaikan ? Apakah industri garmen dan sepatu masih beroperasi dinegara lain ? Yah , terang aja masih beroperasi dengan buruh murah di Cina, Kamboja dan Vietnam. Disinilah perlunya memperluas pandangan atau pemikiran, memperjuangkan upah tinggi malah menjadi persoalan PENGANGGURAN yang bertambah banyak dan hilangnya lapangan kerja. Dengan adanya berbagai pengalaman tidak sedap dalam masalah perburuhan, masalah upah dan masalah hilangnya lapangan kerja mudah-mudahan menjadikan kita lebih mampu berpikir dan mampumemperbaiki kondisi jelek tersebut.[/spoiler]

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: